Kebersamaan itu

“Sahurr!!! sahuuuur.. !!”

Belum ada satupun manusia yang bergerak dengan teriakan para senior yang memanggil mereka dari luar. Anak-anak perempuan yang ada satu kamar dengan Anggi en de geng masih lelap dengan mimpi masing-masing. Tampaknya panitia PKR tidak kehabisan ide untuk membangunkan para peserta yang masih tidur nyenyak. Pembuktiannya karena sampai detik itu belum juga ada yang beranjak dengan cemprengan panitia.

“Buk..BuKKK.. TOkk..TOkk..” panitia menggedor masing-masing kamar tidur peserta. Sebagian ada yang memukul-mukul meja. Sebagian ada yang memukul-mukul jendela. Bahkan ada yang memukul-mukul panci, periuk, ember, kepala temannya.. (heheh.. just my imagination)

Suara-suara itu sudah hampir mirip demo meminta penurunan harga minyak dan sembako.

Mau tak mau para peserta menggeliat dari tidurnya sambil misuh-misuh.

“Hu-uh.. bising kalipun!! Gak tau apa ni baru jam berapa??” Nisa mengomel pada anak di sebelahnya yang ternyata Anggi. Tetapi tampaknya Anggi tak sedikitpun terpengaruh dengan suara-suara tadi.

Menimbang belum banyak peserta yang bangun, panitia semakin menggencarkan aksi mereka, “Dek.. bangun… SAHURRR!!” masih diiringi dengan aktifitas memukul-mukul meja, jendela, pintu dll.

“IYAAAAA.. BISING!!!!” Nisa teriak sekencang-kencangnya. Teriakan Nisa sepertinya bisa menghentikan aktifitas para panitia yang suka membuat heboh. Sontak teman-teman yang berada satu kamar dengan Nisa tertawa. Tepatnya menyeringai dikarenakan masih dalam keadaan setengah sadar terbangun dan setengah sadar tertawa.

“Jam berapa, Yu?”

Ayu sudah bersiap mau keluar, bawa sikat gigi, handuk dan pembersih muka.  Tengsin kali sama kakak kelas, yang tadinya cakep masa’ jadi jelek begitu karena baru bangun tidur.

“Jam 3.”

“Haah?? Gila kali orang itu!! Jam segini udah dibangunin???” Nisa melirik Anggi yang masih dalam posisi melingkar. Meja belajar yang dijadikan tempat tidur ini memang sangat dingin, apalagi kamar mereka tidur berada di tingkat dua. Betapa dinginnya tadi malam. Jam segini memang masih jam tidur buatnya. Ia menggoyang-goyangkan tubuh Anggi yang belum ada ekspresi itu. Susah ternyata membangunkannya, tidurnya sudah seperti orang mati. “Anggiii… Banguuuun…!!”

Satu persatu anak sudah meninggalkan kamar tidur menuju kamar mandi.

Dari luar terdengar teriakan-teriakan panitia. “Dek, yang sudah selesai dari kamar mandi langsung masuk forum yah!! Kita sahur disana. ”

“Dek, cepat itu dikamar mandinya. Jangan ada yang mandi dulu, cuci muka ajaaa.. nanti mandinya.”

“Dek.. jangan ada yang lama-lama dikamar mandinya, antri woooiii.. ”

“Assalamualaikum, dek..” Hihihi.. ini panitia yang usil gangguin peserta cewek saat melewati pos jaga kesekretariatan yang ada di setiap sudut bangunan, tepatnya yang melewati ke kamar mandi.

“Dek… cepaaattt!!”

“Anggi… banguuun.” Nah, yang ini sih suara Nisa.

“Eng.. “ Alhamdulillah ada suaranya juga, Nisa mungkin mengira kalau si Anggi ini telah mati suri.

“Yok, nggi.. ke kamar mandi. Yang laen dah masuk forum buat sahur, tinggal kita nih, yook!!” Nisa menarik paksa tangan Anggi. Sebagian anak cewek sudah kembali dari kamar mandi dan bergerak menuju forum yang ada dilantai 3. Tepatnya diatas lokal yang dijadikan kamar tidur oleh panitia. “Ayyoookkk..” Ajak Nisa sekali lagi. Anggi terseret-seret berjalan, antara sadar dan tidak.

“Anggiii.. Banguuun.. yawdah aku tinggal aja yah!! Biarin disini sendirian!! Hiyy..” Nisa bergidik mulai pergi meninggalkannya.

Spontan Anggi tersadar, “Nisaaa.. tunggu..”

Di forum A, saat Nisa dan Anggi tiba, nyatanya masih ada peserta yang melanjutkan tidur disana. Ternyata cukup lama waktu yang mereka butuhkan untuk mengantri dikamar mandi. Sehingga wajar saja kalau mereka dibangunkan jam 3 pagi. Tampak satu-satu wajah teman sekelas mereka, beberapa tidak begitu dikenal. Forum ini gabungan, dari kelas I-1 sampai kelas I-4. Dan ini adalah puasa pertama mereka di PKR ini.

Anggi, Yuni, Ayu dan Nisa kebetulan satu forum. Ada juga teman laki-laki  yang sekelasnya, Jaka, Feri dan Faisal.  Anggi dan Nisa mengambil bangku yang sudah dikosongkan di sebelah Ayu.

Satu orang moderator di depan forum, Bang Cholid, kabarnya salah satu alumni sekolah ini.

“Empat orang coba turun kebawah, keruang konsumsi, ambil makanan sahur.” Ia menunjuk ke anak laki-laki. Salah satunya Feri.

Mereka disuruh mengambil makanan dan minuman yang letaknya di lantai satu. Sedangkan ruangan forum tempat mereka berada adalah lantai tiga. Ck..ck.. kasian kali yang disuruh abang itu, pikir Nisa.

Hampir setengah lima, mereka memulai sahur dipimpin bacaan doa oleh Ari, anak kelas I-2.

“Yang sudah selesai makan, ambil wudhu dan kita sholat subuh yah. Abang tunggu di ruang musolla. Oh ya, yang abang suruh tadi mengambil makanan, mereka yang tadi juga yang membereskannya, nanti abang atur jadwal untuk piketnya. Yang pasti semuanya bakalan kena giliran. Paham?“

“IIyaa, bang!!” semua koor menjawabnya. Dan satu persatu mulai meninggalkan forum.

“Neng,, atit elut nih..” muka Nisa sangat memelas. Ia tak biasa makan sambal di pagi hari. Maagnya mungkin kambuh.

“Eh? Ya.. ayu gak bawa minyak angin, nis, bentar ayu tanyain yah! ”

Ayu memang bisa diandalkan untuk hal yang beginian, anaknya selain baik hati juga ringan tangan membantu teman. Beda dengan Anggi yang bakalan kegirangan saat tau kalau Nisa sakit perut. Pertolongannya mungkin sangat terlambat, mungkin menunggu hingga Ia puas menertawakan korbannya dulu, baru kemudian mencari pertolongan. Dan kalau meminta bantuan Anggi, mungkin Nisa sudah tewas duluan.

Mereka ke kamar tidur, mengambil minyak angin milik Yuni, tadi mereka sudah meminjamnya. Akhirnya, mereka telat untuk sholat subuh berjamaah di mushollah. Ayu dan Nisa hanya berjamaah berdua. Sedangkan yang lain sudah membagi kelompok tadarus.

Selesai sholat, mereka bergabung dengan kelompok Anggi. Bacaan teman yang lain lancar berbeda dengan Anggi  yang masih terbata-bata membaca Al-Quran. Menurut cerita Anggi, Ia memang kurang perhatian dari orangtua, apalagi dalam masalah agama, orangtuanya hanya memikirkan bagaimana caranya supaya anggi dan adik-adiknya bisa terus sekolah, tanpa memikirkan masalah pendidikan agama. Bahkan sholat saja sangat jarang dilakukan orangtua dan adik-adiknya.

Menurut ceritanya juga, terkadang mereka memang ikut berpuasa. Tetapi puasa itu tidaklah diiringi dengan sholat. Ia sendiri sering malu didepan teman satu gengnya karena merasa keluarganya yang paling banyak masalah. Anggi sangat senang berteman dengan Nisa dan Ayu, mereka pandai mengaji dan rajin sholat.

Anggi menyimak bacaan dari Nisa, anak ini sangat lancar membaca Quran. Ia iri dengan Nisa, karena keluarga Nisa yang taat beragama, tapi yang bikin Ia tidak habis pikir mengapa tidak ada sedikitpun kelembutan pada diri Nisa? Bukankah orang yang ngerti agama malah akan lembut hatinya?  Nisa jarang sekali tersenyum, bahkan terkesan sangat cuek.

Merasa diperhatikan, Nisa menoleh sejenak. Matanya berkedip-kedip kearah Anggi. Anggi mengepalkan tangannya ke arah Nisa sambil memonyongkan bibir, seakan berkata, “Gak usah kebanyakan gaya, wak!! Mereka ketawa cekikikan.

Usai tadarus, mereka disuruh kembali ke kamar untuk beristirahat sampai jam 7.

Dalam perjalanan ke kamar tidur, anggi, yuni, ayu dan nisa berjalan beriringan.

“Nis, ajarin aku baca Quranlah” Anggi meminta dengan malu-malu.

“Hehe.. tenang aja, Nggi. Gampang. Tinggal atur bayarannya aja.” Ia mengedipkan mata lagi. “Ala bisa karena biasa kok. Aku lancar gini juga karena Ayah yang maksa-maksa supaya baca Quran setiap selesai shalat maghrib. ” Ia tersenyum, kalau tersenyum begini sebenarnya Nisa sangat manis. Apa dia tidak menyadari itu? Pikir Anggi.

“Kau juga bisa kok, wak, asal rajin mengulang bacaan aja. Ntar juga lancar sendiri bacaannya. Pokoknya tenang ajalah!!

Ah, Anggi terharu mendengarnya. Ayu menepuk pundak Anggi, memberi semangat padanya.

“Semangat, Nggi!!!” seru Yuni.

“Iyah semaangaatt!! Hahahah..”

“Makasih woi.. “ Anggi sedikit terharu mendengarnya.

Persahabatan itu memang indah, saat terjalin tanpa keragu-raguan dan tanpa batas pamrih dengan adanya ketulusan. Maka beruntung sekali orang yang mempunyai sahabat seperti mereka.

Advertisements