Surat kaleng Misterius

Semenjak kejadian bergantinya guru matematika yang membuat kelas I-1 sempat shock, mengakibatkan penurunan semangat belajar para siswa, khususnya kaum hawa.

Suasana belajar makin tidak kondusif, apalagi ada kabar PHK untuk beberapa guru di semester kedua ini. Karena terdengar kabar beberapa guru senior seperti Bu Wira, Pak Tamba juga akan dikeluarkan.

Seperti biasa Ayu dan Nisa mojok dikelas berdua, berkeluh kesah tentang sekolah tercintanya.

“Ah, peninglaaaah..” suara Nisa, “Apa coba maksudnya guru-guru itu akan dipecat? Bu Wira itu asyik tau mengajarnya, Pak Tamba juga, walopun aku rada-rada gak ngerti. Lumayanlah.”

Ia memijat keningnya seolah-olah sedang berfikir.

“Yah.. Lumayan daripada si Miss Tahu itu..” Ia terkikik. Yang sempat diAminkan oleh Ayu. “Betol itu. ”

Sekilas info, Miss Tahu adalah wali kelas di I-1, Ia mengajar Bahasa Inggris. Setiap awalan pelajaran selalu menggunakan kata, Miss tahu kalau.. Bla bla bla. Frekuensi pemakaian kata tersebut cukup sering jika beliau sedang memberikan ceramah tambahan, gara-gara itulah maka si Miss mendapat julukan Miss Tahu. Dari gosip yang beredar juga, beliau seharusnya mengajar biologi atau pelajaran IPA yang lainnya bukan mata pelajaran Bahasa Inggris karena beliau merupakan lulusan Sarjana Pertanian.

“Sayang kali lah kalau seandainya ibu itu dipecat, sudahlah Pak Neldi gada lagi.. Ah, hilang sudah semangat awak mau belajar.”

Ayu mendelik, emang Nisa kapan pernah belajar? Setau dan sepengamatannya anak yang satu ini kerjanya kebanyakan makan loh.

“Hm.. Apa mungkin..”
“Apa, Yu?” Nisa penasaran dengan kata-kata temannya itu, kalo lah saja bel masuk belum berdering mungkin saja gugatan pertanyaan ke Ayu masih akan dilanjutkannya. Tarikan nafas Ayu, sedikit menganggu konsentrasinya.

Selang seminggu kemudian beberapa gosip-gosip dan fakta baru beredar. Senin itu menjadi awal berita heboh, saat pelajaran PKn yang seharusnya diajar oleh Bu Wira, ternyata digantikan oleh Bapak yang sok ganteng, siapa lagi kalo bukan Bapak Sipahutar.

Bisik-bisik beberapa anak murid dilokal I-1 membuat suasana semakin mencekam. Tapi belum ada yang berani bertanya, kenapa Bu Wira tidak masuk.

Ada yang berbisik kearah meja Feri yang duduk dibelakang Nisa, “Wei.. Katanya Bu Wira memang sudah dipecat.” asal suara dari Ina, meja diseberang. Jangan ditanyakan apakah berita itu falid atau tidak. Berhubung Ina bertempat tinggal alias ngekost disekitar sekolah memungkinkan Ia mendapat berita tersebut lebih dahulu dari kakak kostnya.

Alasan yang kurang logis sih sebenarnya, kalau dilihat dari pengalaman mengajar Bu Wira yang katanya sudah mengajar sejak sekolah ini didirikan. Bukan waktu yang lama sebagai pembuktian bahwa Ia layak dianggap sebagai guru senior yang pantas dihormati dan diakui.

Kalo iya dipecat, alasannya apa sebenarnya? Masa iya karena lalai mengajar. Bu wira itu disiplin dan semua murid menghormati beliau, bahkan guru-guru juga menganggap beliau senior di sekolah.

Sipahutar memandang lokal menyeluruh, mengamati, menyimpulkan apa yang sebenarnya dilakukan anak-anak itu. Mendapati kelas tetap tenang dan terkendali, Ia melanjutkan pekerjaannya menyalinkan catatan dipapan.

“Sstt. Nggaklah, Ibu itu yang mengundurkan diri kok.” Bisik Ayu menyikut lengan Nisa, meyakinkannya.

“Yakin?”
“He-eh. Nanti lagi yah ceritanya.” Ayu memantapkan ucapannya sambil menyalin catatan dan tanpa lepas pandangan dari papan tulis.


Seminggu kemudia sekolah kembali geger. Issue menyebutkan, kalau ada seseorang yang  meletakkan surat kaleng di depan pintu ruangan kepala sekolah. Padahal untuk hal-hal yang berhubungan dengan kepentingan sekolah atau hal  lainnya sebenarnya bisa  dengan menggunakan kotak saran saja.

Ada yang menyebutkan, poin isinya meminta agar bu Wira dikembalikan bertugas, kemudian Miss Tahu diminta untuk tidak usah mengajar karena bukan bidangnya. Agar memecat Pak Xxx karena tindakannya yang sering melecahkan anak murid perempuan.

Semenjak surat kaleng itu akhirnya pihak Yayasan yang diwakili sekolah berinisiatif untuk membuka lowongan guru untuk mengajar disekolah. Banyak tipe guru mencoba mengikuti tes dengan tiba-tiba mengadakan demonstrasi mengajar, termasuk kelas I-1. Anak-anak kegirangan, sibuk menilai, memberi poin untuk calon guru yang mengajar di kelas.

Jam istirahatpun tiba. Dua anak perempuan berjalan beriringan setelah membeli jajan kesukaan mereka. Masing-masing menenteng plastiknya.

“Serius itu, kok bisa?” Nisa mengunyah bakwannya sambil bertanya kembali kepada Tuti yang asyik bercerita tentang fenomena disekolah mereka. Saat itu mereka sedang duduk mojok di halaman depan sekolah dekat lapangan saat jam istirahat. Hanya berdua.
“Dua-rius!”
“Tahu darimana?”
“Tahu lah. Anak mudanya gitu loh. Tuti.. ”
Nisa melempar plastik bungkus bakwan yang sudah habis dilahapnya ke arah Tuti. Dongkol karena Tuti mengajaknya bercanda disaat serius.

“Kalau menurut pengamatanku sih, yang bikin surat kaleng itu jenius. Coba perhatikan, gara-gara surat kaleng itu sekarang sekolah membuka lowongan guru semua mata pelajaran, hanya untuk mendapatkan guru yang benar-benar berkualitas.”
Nisa mengangguk-angguk tanda setuju.
“Tapi yah, kenapa mesti dengan surat kaleng? Apa dengan penyampaian baik-baik suara kita tidak akan didengar? Tidak akan dihiraukan?”
“Yaaaang jelaaass.. Sekolah merasa dipermalukan! Itu intinya! Untuk mengangkat harkat dan martabatnya, biar dikata sekolah menampung aspirasi murid, makanya ada penerimaan guru baru disekolah ini. Padahal setahu aku selama ini belum pernah penerimaan guru baru terbuka seperti ini. Biasanya kan, hanya mengangkat alumni yang sudah sarjana atau praktisi kantor yang memang udah berpengalaman untuk diajukan ke Yayasan. Begituuuu.. Yok.” Tuti menarik tangannya untuk beranjak pergi karena bel masuk telah berbunyi
“Iya-iya..”


“Jadi gimana, Nis?”
“Yah, gimana apanya?” Nisa membuang tasnya didekat tempat tidur Ayu. Saat itu mereka berdua lagi di kosan. Biasanya Nisa singgah disana sebelum pulang kerumah. Dirumah jarang ada orang, makanya Nisa lebih suka berlama-lama sampai sore disitu.

Seakan tahu arah pembicaraan Ayu, Nisa menarik nafas-buang-tarik buang-tarik begitu terus sampai Ayu harus benar-benar menarik hidungnya.
“Aaw.. Yah gitu. Gimana lagi”
“Ah, kau gak jelas, Nis.”

“Yang jelas sih aku gak pernah setuju ama bentuk surat kaleng itu. Bukankah lebih elegan kalau disampaikan secara langsung? Bukankah disekolah ada Osis, yang merupakan penyampai aspirasi murid? Udahlah tenang aja. Gak bakalan ada yang tahu kok.”

Ayu tersenyum.
“Makasih yah, Nis. Kau memang sahabatku yang best best lah.”
“Halah, ada maunya.” Nisa mengambil bantal, memejamkan mata dan kembali teringat kejadian itu, tidak ada yang tahu. Hari dimana Ia terpaksa menemani Ayu dan menjaga lokasi disekitar ruangan Pak Kepsek agar aman dari orang yang sedang lewat.

Surat kaleng itu Ayu yang menulis, setelah menerangkan kepada Nisa isinya dan keduanya setuju untuk meletakkannya didepan pintu ruangan Kepala Sekolah.

Advertisements