Kenapa terlambat?

Bukan satu dua kali ini Fahri telat masuk di kelasku, saat pelajaran komputer yaitu jam pertama. Sudah berulang kali. Rasanya bosan melihat anak yang terlambat yang itu-itu juga. Tindakan hukuman yang biasa kuberikan hanya menyuruhnya berdiri, baca doa belajar dan menambah tugas untuknya. Tetapi karena Fahri anak yang lumayan cerdas, hukuman yang kuberikan sepertinya tidak memberi efek jera.

Hari lain hukuman yang kuberikan, tidak memperbolehkannya bermain komputer. Hal ini cukup bertahan, minggu depannya ia tidak terlambat masuk. Tetapi pada minggu berikutnya masih juga ia datang terlambat saat masuk ke sekolah. Dan ternyata tidak hanya di saat jam belajar komputer saja. Fahri melakukannya hampir setiap hari. Guru piket saja sudah geleng-geleng kepala melihat kelakuannya.

Dan Fahri sekarang masih juga terlambat.

Kupandangi wajahnya dalam-dalam. Ia merasa bersalah, aku yakin itu.

Untuk kesekian kalinya aku bertanya, “Kenapa kamu terlambat?”

“Karena tidurnya jam 12 malam, Ibu.” alasan yang sama seperti yang lalu.

“Ngapain saja sampai jam 12 malam belum tidur?” sepertinya pertanyaan ini juga pernah kuajukan.

Dan jawaban biasanya, “Menonton, Ibu.”

Betul dugaanku.

Otakku berputar-putar memikirkan bagaimana langkah mengubah Fahri supaya tidak telat lagi. Setahun yang lalu juga seperti ini. Saat Fahri masih kelas tiga, sering sekali terlambat, tepatnya Ia dan kakaknya yang kelas enam.

Biasanya untuk menyelidiki latar belakang seseorang harus menggunakan perinsip 5 W dan 1 H (Who, Why, What, When, Where, How). Dan rumus yang belum kuterapkan disini adalah How. Bagaimana latar belakang Fahri bisa tidur selarut itu.

“Seharusnya kamu sudah tidur jam 9 malam Fahri”. Aku teringat sewaktu kecil, orangtuaku dulu selalu membiasakan untuk tidur jam 9 malam. Ngantuk gak ngantuk harus tidur. Mama selalu mematikan TV tepat pada pukul 9 dan mau gak mau kami harus tidur.

“Gak bisa tidur, Ibu.”

“Kenapa tidak bisa tidur? Kamu ‘kan tahu harus masuk sekolah paginya.”

“Karena gak ngantuk, Ibu.”

Ah, iya. Pertanyaan bodoh. Tidak bisa tidur karena tidak mengantuk. Aku menyesal menanyakan pertanyaan itu.

Kepala kugaruk. Biasanya hal apa yang kulakukan supaya bisa cepat tidur? Buka internet? Tidak. Nonton tivi? Juga tidak. Ternyata setelah kupikir-pikir tidak ada hal yang menyulitkan aku untuk susah tidur. Karena jika melihat tempat tidur, aku seperti melihat kekasih yang sangat kucintai. Yah, aku suka sekali tidur.

Cukup lama Fahri berdiri di hadapanku. Aku cuma ingin membuatnya malu. Agar teman-temannya yang lain juga tidak ada yang mencontoh prilaku Fahri. Cuma ingin mengatakan bahwa hal yang dilakukan Fahri itu salah.

Lantas aku ingat, aku juga pernah terkena insomnia. Langkah yang kuambil adalah membaca buku-buku membosankan yang tidak ada unsur ceritanya apalagi kalau bukan buku pelajaran. Hehehhe . Dan dalam hitungan menit bisa dipastikan aku akan cepat tertidur. Karena otakku menerima prinsip, lebih baik tidur daripada membaca buku membosankan itu.

“Dengar Fahri, mulai besok.. minggu depan dan hari-hari selanjutnya, Ibu tidak mau melihat kamu terlambat.”

Ia menatapku.

“Begini, setiap kali kamu merasa tidak mengantuk. Kamu ambil buku pelajaran kamu, dan kamu baca. Harus kamu baca.” Aku memberi penekanan pada kata harus.”Mengerti?”

Aku yakin dia paham.

“Jika kamu masih terlambat juga, berarti kamu tidak menjalankan apa yang Ibu katakan. Dan pada saat kamu terlambat lagi..” Aku menggantung ucapanku. Ingin melihat reaksinya.

“.. Kamu tidak akan Ibu ijinkan bermain komputer seterusnya.” Serasa kepalaku bertanduk mengatakan itu. Kejam.

“Iya, Ibu.”

“Coba ulangi apa yang barusan Ibu katakan..”

“Kalau saya masih terlambat minggu depan.. ”

“.. besok dan seterusnya.. ulangi” Aku meralat ucapannya.

“Kalau saya masih terlambat minggu depan.. besok dan seterusnya..  saya tidak boleh bermain komputer lagi.”

Aku merasa puas dengan ucapannya.

“Baik, kamu boleh duduk”

Dan besoknya, besoknya lagi dan pada saat masuk pelajaranku, Fahri tidak terlambat lagi.

Ah, mudahnya menasehati oranglain. Kenapa yah, aku tidak bisa berubah seperti Fahri?

 

 

 

*Catatan kecil disaat menatap potongan gaji bulan ini dan SP-1 (Surat Peringatan) yang dikeluarkan sekolah karena keterlambatanku yang lebih dari 5 kali di bulan lalu.

**Repost Catatan lama

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s