Jadi?

Rasanya ruang bagian kedinasan ini ingin aku bom seketika mengingat begitu dongkol yang kurasakan. Apa sih hebatnya mereka sampai respon yang kudapat harus seperti ini? Huh..

Dari zaman aku esde, tidak ada sedikitpun ingatan positif tentang dinas yang satu ini. Yang ada cuma hal negatif saja yang kudapat. Bukan hanya aku seorang yang merasakan, teman yang lain juga.

Dari kebiasaan lempar kerjaan, main uang, lambat kerja, pelayanan tidak maksimal. Apalagi yah? Huh, aku muak.

Sekarang, malah terdampar di instansi ini pulak. Ya Tuhan, dosa apa yang telah kuperbuat?

Mataku melihat ke arah pegawai yang barusan lewat, gayanya memakai high heels delapan senti sungguh menyedihkan. Mungkin kalo gada orang lain di ruangan ini, itu cewek sudah membuang segera sepatu yang dipakainya itu. Mukanya terlihat kesakitan. Kasihan.

Aku kembali meluruskan posisi duduk, menarik Nafas lebih dalam.

Teringat kejadian tadi pagi, aku seharusnya berangkat dari rumah paling telat jam tujuh lima belas. Sampai jam menunjukkan jam setengah delapan lewat, pengasuh anak yang kutunggu belum juga datang. Lewat lima menit kemudian barulah ia datang. Kakinya sakit, katanya saat aku bertanya.

Oh my..
Rencana awal ingin mengajar pagi jadinya terlambat. Si M, kepala sekolah tempatku mengajar sudah tegak di depan lokal. Hampir jam delapan anak-anak masih berkeliaran di luar lokal.

“Ibu masuk pagi ini? Rumahnya dimana? Selalu terlambat.” Sinis.

“Iya pak, tapi saya datang hanya mau mengantar surat tugas pak”, aku berusaha ngeles, sambil mengeluarkan surat tugas untuk ujian yang kebetulan kuikuti hari ini.

“Dia terdiam. Tapi ibu sering terlambat juga, dengan siapa mengajar?”

“Dengan riri, pak”, temanku berdiri santai di belakang dengan wajah polos. Astaga kenapa juga belum masuk kelas tuh anak, Riri juga nih. Ugh.

Tanpa peduli tatapan heran si M, aku segera membuka kunci lokal, dan menyuruh anak murid masuk. Tanpa sengaja terlihat panggilan tak terjawab dan satu Sms masuk di layar. Olala ternyata sebelumnya si M sudah berusaha menghubungi ke hapeku.

Ruangan dinas kembali sepi, pegawai pergi beristirahat, perutku mulai terasa lapar. Aku.melirik jam, orang yang kutunggu masih belum datang.

Nah yang tadi itu, ternyata si Riri beralasan tidak tahu kunci lokal disimpan dimana. Dan anak-anak saat ditanya, sapa gurunya, menjawab bu Nisa. Tentulah, aku kan merangkap wali kelas mereka juga. Akhirnya kubalas Sms si M, isinya menjelaskan. Hilang sudah wibawa yang kubangun selama ini.

Seorang bapak, Raffles, yang kubaca dari tanda pengenalnya, sedang sibuk memberi stempel berkas di meja tamu ruangan ini. sedangkan yang wanita, kurasa seorang guru, bolak balik membalik kertas yang telah distempel bapak tadi. Tidak berapa lama mereka pun pergi.

Perutku masih lapar. Pulsaku tinggal lima ribu.

Tadi kukatakan aku akan ujian kan? Setelah usai mengajar pagi dan sarapan sebentar disekolah, aku pergi ke sekolah A untuk ujian percobaan awal ikut sertifikasi guru.

Entah kenapa semakin mengantuk mengerjakan tes seratus soal, aku selesai mengerjakan soal dalam waktu satu jam dari dua jam waktu maksimal dalam mengerjakan soal, selain itu pendingin ruangan yang tidak hidup semakin membuat udara gerah sehingga membuatku untuk secepatnya keluar ruangan.

Sambil menyimpan alat tulis kulihat hape ada Sms masuk. Dari si M lagi. Deg-degan, aku bikin salah apa lagi? Aihhh.

SEGERA HUBUNGI PAK ERI DINAS. PENTING TENTANG SERTIFIKASI.

hufh..
Segera kutelpon nomor yang diterakan. Dan hasilnya setelah ngotot-ngototan, di putuskan harus segara menghadap.

Di sinilah aku. Setelah selesai menghadap si bapak itu. Dan hape bergetar sekali lagi, temanku Vera, bertanya heran kenapa sudah sampai di dinas. Karena memang awalnya kami berencana ke dinas mengajukan berkas untuk naik golongan kepegawaian.

Rasa pusing belum juga hilang. aku hanya mengiyakan pertanyaan yang di jawab sendiri olehnya, ia berjanji segera menyusul.

Itu satu jam yang lalu.

Dua jam kemudian.

Aku sudah sangat kelaparan. Huh.

Berkas yang mau kuberikan untuk usulan naik golongan pegawai tanpa pikir panjang ku titipkan saja dengan salah satu pegawai disitu. Bodo. Terserah mau hilang, mau di kembalikan, mau dibakar. Entah.

Aku sudah terlanjur sakit hati gara gara di panggil menghadap tadi. Sesuatu yang tidak penting.

17032015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s