Modal Nikah

Beberapa waktu yang lalu ada yang bertanya hal pribadi, adik kelas saya zaman sekolah.

Bahasannya kira-kira begini,
“Kak, mau nanya lah”
“Apa tu?”
“Awak mau pinjam duit lah”
“Buat apa dek, mau buat nikah yah?”
“Iya, kak. Kok tau?”

Orang udah pernah menikah yah tau lah. Halah. Pertanyaan demi pertanyaan saya lontarkan sekedar ingin tahu sampai dimana kesiapan dia untuk menikah.

Emang udah punya berapa? Kebutuhannya berapa?
Nikahnya kapan? Calon dimana rumahnya dan apakah calon sudah tau kondisi keuangan yang di alaminya saat ini? Keluarga gimana, ada bantu apa? Blablabla…

Sedikit flashback ke masalah pernikahan saya dulu yang ujung-ujungnya gak jauh berbeda, sekitar kebutuhan pernikahan dan modal yang ada.

Saya domisili medan, dan beliau dari Pekalongan. Bertemu di Padang. Beda lubuk beda kebiasaan. Pasti langsung terbayangkan berapa mahal ongkos yang di keluarkan untuk menyatukan dua keluarga ini.

Jujur, itu masalah utama yang harus dihadapi saat memulai hubungan. Yah, si beliau mengungkapkan kegelisahannya masalah biaya. Saya diam, saya pikir dalam hal bagaimana pun yang namanya niat baik tentu tidak boleh dipersulit. Saya tanyakan kembali padanya, berapa jumlah simpanan, kira -kira sumber dana yang bisa dipergunakan darimana.

Dan akhirnya diambil beberapa keputusan dengan kesepakatan kami berdua. Yah, kami berdua. Karena bagaimanapun nantinya yang akan menjalani rumahtangga baik susah ataupun senang adalah kami. Artinya kami telah siap dengan kemungkinan terburuk. Masalah gengsi harus diletakkan diurutan terakhir. Dan kami selalu mengutamakan komunikasi.

Jadi soal pinjaman? Tentu saja ada, dan tidak hanya satu tempat, intinya sih tekad untuk menyegerakan hak oranglain yang telah kami pakai.

Saya tidak bisa membayangkan seandainya setelah menikah barulah diketahui kemudian hari ternyata hutang bertumpuk dan telah antri untuk segera dibayar karena saya tidak pernah tahu darimana asal biaya pernikahan kami. Mungkin yang ada hanya kesal bin gondok karena tiap bulan sudah ada potongan gaji dari jumlah yang seharusnya diterima.

Alhamdulillaah seiring waktu pinjaman kami telah lunas, walaupun kemudian bertambah kembali.. Hahahha..

Yah kalo dipikir lagi dengan gaji PNS yang diterima beliau dan tanggung jawab belanja ke adik-adiknya, bisa-bisa beliau baru akan menikah pada usia kepala tiga karena harus mengumpulkan uang buat menikah dahulu.

Qadarullah memang jauh lebih indah, hanya butuh keyakinan aja untuk bisa menjalaninya. Insya Allah..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s