Prof. dr. Google

Apa kabar cinta?
Aku baik-baik saja

image

Hm.. tepatnya baru sembuh dari berbagai penyakit musiman.
Tidak beda jauh dengan si bocah ataupun bocah jr. yang dalam taraf penyembuhan

Kalau bercerita dengan obat dan penyakit, banyak hal yang mau saya ceritakan. Ini ada hubungannya dengan si bocah

Sebagai seorang yang sakit selayaknyalah berobat dan minum obat. Hal ini telah dilakukan oleh si bocah, hanya saja kepercayaan terhadap dokter yang didatangi ternyata tidak membuatnya 100% yakin dengan analisa dokter tentang penyakitnya. Kenapa? karena dia lebih sering menganalisa penyakitnya sendiri dengan bertanya pada mbah GOOGLE!

Sudah beberapa kali berobat ke dokter spesialis bahkan sampai mendatangi Profesor yang buka klinik pengobatan khusus penyakit dalam, tapi tetap saja ia bertanya pada mbah Google!

Saya gak tau apakah ini aib suami atau bukan, saya hanya mencoba mendesripsikan masalah yang dialami suami saya. Kalau ini saya ceritakan semoga ada hikmahnya juga bagi yang membaca.

Awalnya pada suatu hari sebelum keberangkatan si mas untuk sensus diluar kota Padang, ia menyatakan agak pusing tetapi keukeh berangkat melaksanakan tugas lanjutan untuk sensus Kesehatan atau tepatnya SDKI. eh, baru satu hari tiba di Painan, salah satu daerah di Padang yang kena sampel sensus, ternyata saya menerima telepon bahwa ia dirawat dirumah sakit dan akan pulang besoknya. Ternyata Ia terkena maag.

Setelah pulang, Ia izin selama beberapa hari di rumah dan selama itu Ia baru menyadari bahwa maag itu adalah penyakit yang berbahaya, kata mbah gugel.

Berbagai makanan dan obat tradisional dan suplemen penyembuhpun dibeli atas anjuran mbah gugel. Ada yang mengatakan obatnya itu madu, oat, lidah buaya, pun sampai susu kedelai yang belum pernah diminum sampai sekarang, kami beli.

“Salah satu penyebab maag itu pikiran ternyata, dek!”

“Semua penyakit yah asalnya emang pikiran, kalau hatinya senang yah penyakit juga jarang datang!” kata saya.

Pergi berobat ke spesialis penyakit dalam, ia gak puas karena merasa enggak didengerin keluhannya. Yah gimana tidak? udah daftar dari jam dua belas. Eh, itu dokter datangnya jam 4 dan tinggal ngasih resep doang. Mana masuknya berdua dengan pasien lain juga dan keluhan si mas juga udah dicatatin sama perawatnya diawal daftar berobat dan chek-upnya gak sampai lima menit.
Itu salah satu yang bikin saya males berobat ke rumah sakit. Serasa hak saya untuk berkonsultasi itu terabaikan karena dokternya orang sibuk dan kami cuma bayar murah. Seakan-akan dokternya cuma jualan obat karena ternyata obat yang harus kami tebus berkali lipat dibandingkan obat generik yang didapat di rumkit tempat awal mas dirawat.

Merasa kurang puas akhirnya kami ke klinik penyakit dalam yang ternyata dokternya lagi gak sibuk, jadi si mas bisa curhat sepuasnya. Eh, malah nyambungnya sama yang sering si mas baca di mbah gugel. Dalam hati saya gak berhenti ngoceh, “Kalau mas udah tau penyakitnya apa kenapa pergi ke dokter lagi? Lah emang pinteran sapa? mbah gugel atau dokter?”
Intinya sih pergi ke dokter cuma cari pembenaran dari yang si mas baca.

Besoknya lagi si mas curhat sehabis nanya mbah gugel kalau obat yang itu dokter kasih ternyata cuma beda merek doank. Plaaakk..

Dan besok-besoknya lagi karena belum sembuh juga kami pergi ke klinik Prof. dr. spesialis penyakit dalam. Disitu si mas dapet pencerahan kalau penyakit maag emang lama masa penyembuhannya. Dan semua emang karena si mas kepikiran terus sama sensus yang belum selesai sampai semua tim balik ke Padang.

Baguslah kalau si mas nyadar kalau penyakitnya itu emang asalnya dari hati dan diri kita sendiri dan pengobatannya juga bukan karena obat. Tetapi lebih karena makan yang teratur dan tidak telat.

Sehabis itu si mas bilang, “Dek, ternyata obat yang kemarin dikasih dokter itu sama dengan obat yang itu. Bedanya yang ini bermerk makanya mahal sedangkan yang itu obatnya generik, kandungannya persis sama!”

Gubraaaakkk!

-catatan dibulan juni-

Advertisements

2 thoughts on “Prof. dr. Google

  1. Hadee says:

    Aku juga mengidap maag sejak lama, tapi sekarang sudah sangat jarang kambuh, alhamdulillah… ga ada pantangan makan apa-apa. Mungkin karena dulu rajin menenggak madu tiap pagi. Madu hutan asli. sekarang sih sudah mulai jarang minum madu. susah nyarinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s