mudik

Saya masih di stasiun kereta Pekalongan dengan Syamil yang tertidur lelap setelah perjalanan naik motor dari wiradesa ke stasiun. Keberangkatan kereta yang akan kami tumpangi sekitar jam 7. Suamiku masih mengobrol dengan seseorang, saya mengira ia adalah salah satu tetangganya.

Ini kesekian kalinya saya mudik ke pekalongan, kampung halaman suami saya. Tepat pada hari pertama puasa menurut pemerintah kami tiba disini. Kami ‘harus’ pulang karena si Mbah sakit. Alhamdulillah beberapa hari kedatangan kami disini si Mbah mulai mendingan. Biasanya saya hanya mengenal satu rumah pulang yaitu Tapsel, Tapanuli Selatan. Tempat dimana orangtua saya berasal. Dari kecil saya dan abang-adik biasa pulang kampung kesana. Budaya yang berbeda, kekhasan yang berbeda dan tentunya kebiasaan yg berbeda.

Sewaktu pertama kali saya menginjakkan kaki di tanah Pekalongan, suasana asing langsung terasa, beda bahasa tentu selain orang-orang yang sama sekali tidak saya kenal. Yang pasti sebelumnya saya udah wanti-wanti ke suami saya yang masih satu bulan saya nikahi itu, “Mas, pokoknya jangan jauh-jauh dari adek! Ntar adek gak ngerti apa yang di bilang!”

Selain kata sakti itu, saya juga harus selalu pasang senyum yang manis kemana-mana dan pada siapapun yang nanya. Asli saya gak ngerti sama sekali apa yang mereka katakan dan tanyakan.

Kali kedua kami ke Pekalongan pada saat lebaran. Saat itu saya lagi hamil 3 bulan, kondisi yang kurang mengenakkan karena bawaan hamil. Morning sick dan makanan yang pahit dilidah membuat saya betah dikamar tanpa keluar mengenal sanak famili yang bolak balik datang berkunjung tanpa henti.

Yang ketiga kalinya saat lebaran tahun lalu, sudah ada bocah junior yang kami bawa serta. Syamil sudah berusia 5 bulan. Sudah pinter duduk dan berdiri tapi dibantuin. Saat itu saya kesenangan karena banyak bulek dan omnya Syamil yang bergantian menjaga dan menggendong Syamil. Alhamdulillah..

Sejak itu kami membuat kesepakatan bahwa pulang kampung harus diatur secara bergantian. Karena kali pertama lebaran setelah menikah kami masih menyempatkan pulang ke Medan lalu lanjut pekalongan. Kalau diurutin rutenya itu menjadi Padang-Medan-Jakarta-Pekalongan-Jakarta-Padang.

Jadi lebaran idul fitri tahun lalu kami di Pekalongan dan lebaran Haji kami berada di Medan. Sedangkan untuk lebaran kali ini adalah giliran di Medan. Ah.. saya udah tidak sabaran menunggu saat itu, saat balas dendam. Yah, kami akan pulang ke huta, Tapsel. Gantian deh nanti siapa yang bakalan bengong. Wkwkwkwk…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s