Pasca Nabrak

Setelah rehat sejenak merenggangkan badan pasca tabrakan, sore itu aku kembali menaiki motor dalam perjalanan menjemput bocah di kantor BPSnya. Tepatnya di jalan Bandung (baca, lokasi masih sekitar Padang). Bukannya bocah gak tau kalau aku pasca tabrakan, tapi karena aku sendiri yang masih merasa mampu buat naik motor. Cuma sedikit lecet di lutut kok, pikirku.

Terengteng-teng. Sampailah aku di lokasi penjemputan dengan sedikit ledekan (menurutku) dari temannya yang ternyata sudah mendapat riwayat penceritaan berjudul ‘aku nabrak’. Siapa lagi yang cerita kalau bukan dari si bocah.

Aku segera memburu agar beliau berkemas, karena waktu yang hampir maghrib.

Ternyata tidak begitu jauh selepas kami keluar dari kantor, sudah terdengar azan. Niat ingin berbuka aku utarakan kepada beliau, “Mas, berhenti sebentar buat beli minum. Adek mau berbuka.” Singgah sebentar membeli minuman gelas bermerek SMS seharga lima ratus. Sisa kembalian langsung dikembalikan ke dompet dan dompetnya kembali keasal. Yaitu saku kiri jaket yang sedang kupakai.

Perjalanan pulang kerumah bocah nanya, “Ada masak, dek?”

Karena sebelumnya berencana mau singgah sebentar di warung dekat rumah, lantas kujawab, “Gada Mas, nanti singgah sebentar ke warung yah! Adek mau beli tempe ama sayur.“

Setibanya di warung dan selesai berbelanja, saat ingin melakukan pembayaran aku bingung. Perasaan tadi aku bawa dompet gak yah? Saku kanan dan kiri jaket kuraba. Tapi itu dompet gak ketemu. Si bocah  yang lagi nungguin belanja nanya, “Hayyo.. gak bawa dompet yah?”

Aku menunjukkan minuman yang masih kupegang saat berbuka dijalan tadi. “Lah.. bayar ini tadi pake apa? Kan pake duit adek.” Aku panik begitu sadar ternyata dompetnya jatuh di suatu tempat. Bocah buru-buru menyelesaikan pembayaran.

Saat itu suara azan maghrib yang kami dengar telah selesai di kumandangkan.

“Jadi gimana?” Aku merasa gak enak hati, pikiran, dan perut. Sama-sama capek, dan lapar. Akhirnya kami sepakat buat kembali ketempat membeli minuman tadi.

Dan sepanjang jalan kami telusuri manatau itu dompet ketemu. Walaupun bisa diprediksikan harapan buat menemukan barang yang sudah hilang itu hanya sekitar lima persen. Tapi gada salahnya dicoba, kalau nantinya gak ketemu juga yang penting sudah dicari begitu pikirku. Ah, padahal isinya gak seberapa. Hanya dua buah ATM yang limit masing-masingnya gak sampai dua ratus mungkin, KTP, beberapa kartu keanggotaan dan lembar ribuan. Dompetnya tetap tidak ketemu.

Pasrah. Kami memutuskan untuk melanjutkan sholat maghrib di jalan sekitar TKP karena waktu yang tidak mencukupi kalau harus pulang dulu kerumah.

Allah, musibah apa ini? Tegurankah atas semua kelalaianku? Karena perihnya jatuh akibat tabrakan tadi belum juga hilang tetapi telah Kau timpakan musibah lagi. Apakah aku harus bersyukur ataukah harus bersedih karena kehilangan benda yang mungkin nanti dapat kucari lagi? Astaghfirullah.. ataukah aku yang memang sering bersikap sombong? Sehingga peringatan ini kau berikan kepadaku?

Astaghfirullah.. astaghfirullah al’adzhiim..

Cukup lama aku termenung saat berdoa. Sampai tak kusadari kalau si bocah telah menungguku diluar mesjid. Kuhampiri ia, “Yok Mas, pulang.”

Si bocah terdiam.

“Dek.. “

Kuikuti pandangannya yang mengarah ke sesuatu.

Aku lemas.

“Ya, Allah.. Astaghfirullah.. “

Sandal jepitku yang tadinya berwarna hijau sekarang sudah berganti warna. Sebelah kiri hijau dan sebelah kanannya biru.

Advertisements

4 thoughts on “Pasca Nabrak

  1. ayu says:

    wah nis… jadi dompetnya hilang tak bertuan nisa??

    YAh, cobaan nis…

    Next time, waspadalah..waspadalah…

    Cerita yg menyedihkan sekaligus mengharukan…

    aku mau senyum atau nangis jadi bingung, senyum karena dibalik kesulitan, kita masih bisa bersyukur, apalagi ada mas mu yang menemani mu…

    mau nangis karena udah jatuh, dompet hilang, sandal tertukar, laper, hmm.. lengkap lah… tapi…. ttp masih bisa bersyukur kan, dan peringatan bagi kita untuk lebih hati-hati karena di lain waktu kejadian serupa bisa dihindarkan…

  2. La tahzan mbak. Ujian itu datang agar kita bisa naik ke tingkat yang lebih tinggi. Sekarang tinggal kita mampu atau tidak untuk melewatinya. Bukankah karuniaNya begitu besar..?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s