Guruku Pujaanku

Di kelas anak I-1 ada seorang guru yang menjadi pusat perhatian anak cewek. Bukan karena kejutekan ataupun kegalakannya. Guru ini tidak seperti Bu Wira Ginting yang suka celoteh kayak burung pipit, “Kalau kalian tidak jadi Pegawai Telkom. Itu tidak apa-apa”, katanya suatu kali, “Yang penting, kalian yang wanita-wanitanya ini bisa menjadi istri dirut Telkom. Pacarin aja abang-abang kelas kalian yang sudah MDC. Masa Depan Cerah.” Hehehhe..

Bukan seperti Pak Tamba yang senang dengan rumus-rumus kimianya.

Bukan juga seperti pak JP (baca, J. Pasaribu) dengan tampang yang seharusnya masuk museum akibat terlalu tua mengajar dan gayanya yang terlalu cerewet. “Makanya, itu kuping dipakai.” Suatu kali dia memarahi jaka, gara-gara tidak membawa peralatan praktikum. “Kuping, kuping belanga.. mata, mata bambu..Ribut saja kerja kalian disitu, bukannya mendengarkan!”

Bukan pula seperti Pak Manalu, yang hobinya menyiksa anak kelas I-1 buat muter-muter lapangan, atau yang lebih gilanya lagi menyuruh mereka marathon keluar sekolah melewati rute sekolah-simalingkar-sekolah. Kalau di itung-itung bisa mencapai dua kilometer perjalanan.

Dan yang pasti bukan seperti Pak Sipahutar, yang selalu merasa orang paling ganteng se-SMK Telkom.

Dia adalah Pak Neldi. Ketampanannya bisa membuat kelas I-1 damai. Khususnya buat kaum hawa. Pak Neldi seorang guru muda, mungkin usianya sekitar 22 tahun. Guru yang enerjik dan tampan. Mempunyai tinggi rata-rata dengan bahu bidang, putih dan mempunyai face yang full smile. Pak Neldi kebetulan mengajar matematika.

“Huh, kalau aku gak ngerti matematika sih, gak masalah. Kalau gurunya kayak Pak Neldi, diajarin sampai pulang sekolah juga gak papalah. Asal bisa melihat tampang cakepnya itu..” itu baru kata Anggi.

“Iya, kalau ngantuk kan bisa pandangin muka bapak itu, uh, tampannya.. mau dong jadi pacarnya.” Itu Maya yang bilang.

“Terserahlah, mau belajar apa, biarpun gak ngerti, yang penting merhatiin. Duh, Bapak itu pinter, masih muda, keren..” Hihihi si yuni gak mau kalah.

Tinggal feri yang garuk-garuk kribonya. Merasa tersaingi dengan Pak Neldi. “Woi.. berhentilah kalian memikirkan yang tidak-tidak, lebih baik kalian perhatikan temen kalian yang kribo dan seksi ini. ”

“Betul.. itu Fer, “ Jaka mengaminkan apa yang dikatakan Feri, “Tak bagus itu, kalian terlalu menghayal, lebih baik kalian bersyukur mempunyai teman yang ganteng kayak kami ini.”

Nisa menyelutuk, “ Jaka, Feri, udah gosok gigi belum? Kalau ngomong itu jangan kumur-kumur..”

Feri dan Jaka bermaksud angkat kaki melihat kedatangan Nisa yang terkenal tukang palak itu. Bukannya takut sama makhluk manis itu. Tapi mereka langsung teringat, kalau udah dua bulan ini belum bayar uang kas. Belum juga mereka ambil langkah seribu, Nisa udah menghadang dengan buku catetan kasnya. “Bayar. Mana uang kas kalian?”

Ohh.. tidakkkkk.

—-

Kali ini Feri sependapat dengan jaka, kalau anak-anak cewek di kelas mereka memang sudah pada kerasukan oleh kegantengan Pak Neldi. Mengapa bisa begitu? Sudah berulang kali Pak Neldi menerangkan masalah komposisi dan pecahan. Tapi entah kenapa juga sampai saat ini Feri masih belum bisa mengkoneksikan otaknya dengan penjelasan Pak Neldi. Sedangkan di barisan depan, anak-anak cewek yang mengidolakan Pak Neldi tampak tekun memperhatikan. Apakah karena ini masalah hati? Biasanya kalau menerima pelajaran dalam keadaan setengah hati, pelajaran tersebut akan sangat sulit diterima otak dan dicerna oleh akal.

Brando yang bertukar posisi dengan Jaya dan duduk di sebelah Feri tampak mengantuk mendengarkan keterangan Pak Neldi.

Feri memperhatilan satu persatu wajah anak di kelasnya itu. Semua anak cewek memang benar-benar sangat perhatian. Sedangkan anak cowok hanya sebagian saja yang memperhatikan. Sebagian lagi setengah mengantuk dan ada juga sekedar mencoret-coret kertasnya. Entah apa yang mereka lakukan.

Nisa yang duduk tepat di depannya tampak berulang kali merogoh sesuatu di laci. Apa itu?

Feri penasaran. Mencoba memanjangkan leher kearah depan. Brando tampaknya mulai sadar dengan tingkah Feri yang aneh ditambah dengan ucapan sujud syukur karena Pak Neldi telah selesai menerangkan. Anak yang lain sibuk mencatat dan mulai mengerjakan soal.

Phufh.. sama sekali tidak ada hubungannya dengan contoh soal yang baru diberikannya. Jaka garuk-garuk kepala melihat kearah Faisal yang sangat lancar mengerjakan soal.

“Ngapain kau, Fer?” sikut Brando.

“Stt.. diam kau” tangannya menyilangkan telunjuk didepan mulut. Berdiri dan berjalan pelan ke meja Nisa. Merebut sesuatu dari tangan Nisa dan segera memasukkannya kedalam mulut.

“HAP” Hihihi.. kacang atom punya Nisa berhasil dirampoknya. Dengan segera tanpa ampun Nisa melempar buku cetak Matematika yang lumayan tebal ke arah Feri.

“ADDUUHH..”

Seluruh kelas kontan melihat kearah Feri.

“Ada apa Fer? Ada yang kurang jelas?” Tanya Pak Neldi.

“GAK, PAKK.”

“Awas kau!!” ancam Nisa dengan setengah berbisik.

“Do, ajarin napa.” Nisa mencoba mengeluarkan rayuan mautnya.

Feri menatap heran ke arah Brando. Bukannya tadi anak ini tidak ada memperhatikan. Tapi kenapa begitu lancar mengerjakan soal yang diberikan Pak Neldi.

“Mana catatan kalian? Pinjam dulu, Yu. ” Ayu menyerahkan catatannya ke Brando. “Ho-oohh.. daritadi kalian kemana aja? Bukannya tadi kalian memperhatikan Bapak itu?”

Ayu dan Nisa cengar-cengir. Posisi duduk mereka telah berubah ke belakang menghadap Feri dan Brando.

Kelas sudah menjadi forum diskusi. Masing-masing telah membuat kelompok sendiri. Hanya satu dua orang yang mengerjakan sendiri. Faisal dan Hesti. Mereka memang pintar. Bagi yang mempunyai kemampuan rata-rata biasanya hanya mampu berdiskusi. Bagi yang mempunyai kemampuan dibawah rata-rata tanpa malu-malu memperhatikan dan tanpa bertanya langsung menyalin hasil yang telah di cari temannya. Dan bagi yang tidak tahu malu hanya mengobrol dan jika tiba saat pengumpulan tugas langsung mengambil paksa buku anak yang lain dan segera menyalinnya.

“Kau macam gak tau aja, do. Mana ngerti kami apa yang dijelaskan Bapak itu. Kami kan Cuma melihat muka Bapak itu aja. Bukan memperhatikan apa yang dijelaskannya. Kalau gak gitu, pasti kami dah tidur daritadi”

“Iya.” Ayu mengaminkan apa yang dikatakan Nisa. “Ngantuk kali aku daritadi.” Loh?

“Ye..” Plukk. Brando memukul kepala Nisa dengan pelan menggunakan catatan Ayu.

Hihihih.

“Begini caranya.. bla..bla.. bla.. ngerti?”

Lebih baik sepertinya aku belajar sama Brando daripada mendengarkan pak Neldi tadi. Feri menggaruk-garuk rambut kribonya. Masih tidak percaya dengan Brando kenapa bisa mengerti dengan penjelasan bapak itu, padahal tadi kan dia mengantuk.

“Hebat do.. hebat..” feri menepuk-nepuk bahu Brando. Saat Brando berhasil mencari jawaban soal nomer satu sampai lima. “Gak sia-sia aku punya kawan macam kau… hihihi.. lanjutkanlah sampai sepuluh itu. Biar aku nanti tinggal mencontek. Hahaha..”

Brando pasrah menyesali punya kawan seperti Feri.

Semester kedua, lokal I-1 seperti biasa jam pelajaran matematika dengan atmosfer yang berbeda.

Ina didepan kelas sibuk mengabsen anak-anak yang hadir. Beberapa bergerombol membahas angka-angka (istilahnya kerajinan ngerjain soal). Sebagian anak laki-laki bergerombol bercerita tentang games baru, biasanya mereka adalah anak-anak yang ngekost disekitar sekolah. Beberapa tampak tidur, seperti Fazmal dan jaka. Ada adegan kejar-kejaran, Maya mengejar Irfan. Dengar kabar sih sebenernya Irfan itu agak shock kalau didekati dengan yang namanya cewek, makanya ia selalu menghindar kalau didekati cewek.

Entah kenapa hari itu Pak Neldi terlambat untuk mengajar seperti biasanya. Kelompok cewek-cewek barisan depan entah dapat kabar darimana mengatakan kalau Pak Neldi gak bakalan mengajar lagi di sekolah mereka.

“Ah, masa’ sih?”

“Iya. Iih gak percaya gtu sih?”

“Terus kenapa gak ngajar lagi?” desak Maya kini menghentikan pengejarannya dan bergabung dengan Anggi group.

“Hee.. meneketeheee… “, jawab Yuni.

Ayu menyikut Nisa yang diam-diam memperhatikan apa yang baru diobrolin Anggi group. Agak berbisik, “Beneran yah? “

Nisa menaikkan bahu.

Setelah hampir 20 menit kelas dalam keadaan merdeka, datanglah Pak Yusup –wakepsek –dengan seseorang. Kata beliau tugas Pak Neldi mengajar matematika untuk seterusnya diajarkan oleh Bapak tersebut.

“Itu guru penggantinya? Yahh.. ” murid-murid terdengar kecewa.

Lokal I-1 pelajaran matematika.

“Jadi, bilangan yang ini ditambahkan dengan bilangan yang ini hasilnya demikian.. blablabla.. “ Guru tersebut menatap tekun ke papan tulis menerangkan matematika tanpa sedikitpun memperhatikan kondisi kelas yang kacau karena hanya sedikit murid yang memperhatikan.

Kondisi kelas tidak tenang. Kebanyakan bercerita dengan teman semejanya masing-masing. Bahkan ada mengambil kesempatan untuk makan bakwan didalam kelas. Beberapa anak cewek bolak-balik bergantian untuk permisi ke toilet.

Nisa sesekali menatap tanpa gairah ke depan memperhatikan Pak guru –yang entah siapa namanya- menerangkan rumus-rumus matematika. Posisinya yang dipojok meja kedua sebelah kiri dari depan setelah bertukaran dengan ayu membuatnya leluasa untuk sesekali melirik komik sinchan yang ada di laci meja.

Semenjak hari pergantian guru baru, anak-anak di kelas khususnya yang cewek seperti kehilangan minat belajar matematika. Shock tepatnya. Beritanya, Pak Neldi mengundurkan diri dari mengajar disekolah mereka karena sedang mengidap penyakit yang lumayan parah. Katanya terkena kanker otak atau semacamnya. [hadis riwayat dari kakak kelas yang gak shahih].

Sebenarnya banyak yang menyadari siapapun guru yang mengajar mau ganteng atau nggak, sekalipun dia pendek, berkacamata, hitam, walaupun berbahasa tidak jelas seperti Bapak itu –baca, yang lagi ngajar di depan kelas-, yang menentukan prestasi belajar adalah diri sendiri. Yah, diri sendiri.

“Terserahlah Bapak itu mau mengajar apa, kan masih ada brando. Iya, kan. Do 😉 ?” kata Ayu.

“Hihihi.. betol itu! 😀 ”, Feri meng-Aminkan.

Advertisements

11 thoughts on “Guruku Pujaanku

  1. ayu says:

    nis…nama bapak pengganti pak neldi itu pak sariaman…hahaha…diganti temen2 jadi sariawan :-))
    hihi.. iyah nis… memori lama teringat lagih..kok bisa kau ingat sampai sedetil itu?? ccckkkk..cckkk… hebaaat!!! jadi pengen punya mesin waktu kayak doraemon deh… (eh..disebut mesin waktu atau lorong waktu yah?..udah lama ga nonton doraemon..)

    btw, kemana pak neldi yaaahhh???

    • hihi.. iya aq lupa!
      wakakak.. habis kau bilang namanya jadi sedikit terbayang orangnya kayak mana.. hihihih..

      terakhir kali liat pas kelas tiga kalo gak salah, lagi dirumah sakit gtu.. tapi gak sempat nyapa. Bapak itu udah berkurang gantengnya 😀

  2. ayu says:

    pak sariaman…masa sih kau bisa lupa… pas kelas 2 beliau dikerjain ama anak-anak…

    di papan tulis ditulis :
    “ENKASARI..SARI ALAMI UNTUK SARIAMAN…”

    hihih… itu ada dulu iklan enkasari..coba kau ingat2 dulu.. aku ga mungkin bisa lupa kejadian itu, krn stlh itu pak sariaman marah2 ke semua orang di kelas 2-es 2, :ngakak:

    PAk neldi… kemanakah dirimu…
    ingin rasanya kusampaikan sesuatu… hehehe

    • wakakaka..
      pagi-pagi dah ketawa aq bacain komenmu.. emang ada gtu dia marah2? kok aku gak ingat yah?

      hihihihi.. seingat aq, dia cuma ngajar waktu kelas satu. soalnya pas kelas dua seingatku udah alm. Pak Pur yang ngajar 😀

      makaaaanya aq gak ingat namanya siapa! hihihi.. 😀

  3. ayu says:

    hoooo…. masih sempat sebentar ngajar nis kalau gak salah, gantiin pak pur atau gemana…

    iyah tuh… pas kelas 2 nis, ya iyalah ga ingat, kan kelas 2 kita beda kelas..

    (btw iklan enkasari itu pas tahun brp yahh??) nah lho kok jadi ngomongin iklan 🙂

    btw enywey 🙂 yang pak guru agak ‘lebay’ itu siapa ya namanya? yang alumni Stttelkom? hehe

    • iya nyah? maklumlah selama kelas dua kelas kami terlalu bersenang2 sama pak pur 😀 .. anda senang, saya senang, mari kita bersenang2.. hihihi..
      weis.. nggosip kita disini wkakakka..

      guru lebay yang mana maksutnya? Pak Ersan kah maksutmu 😀 ?
      masih ada kok manusianya neng..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s