Sanlat di Hari Pertama

“Wew.. pindahan wak? Banyak kali yang kau bawa itu! Kok gak sekalian aja kau bawa tilam, bantal sama guling?” Anggi mengulik satu persatu bawaan Maya. Ampun anak ini, mau PKR cuma satu minggu aja, bawaannya udah kayak mau minggat dari rumah. Tas gedenya aja sampai tiga biji, melebihi orang yang mau mudik kalau lagi lebaran.

“Eh.. bukan aku yang bikin. Tapi mamaku.” Maya menunjuk ke arah mobil yang barusan aja pergi meninggalkan sekolah.

“Halah.. kalau iya juga gapapa. Weis.. makanan.. hahahah..” Anggi bersorak kegirangan seperti menemukan harta karun. “Ntar, aku bagi yah, aku gada beli apa-apa nih.” Nadanya bukan seperti meminta tapi lebih tepatnya mengancam. Awas kalau gak dibagi, kira-kira begitu.

Anggi melongok keluar sekolah, sesekali mengawasi anak-anak yang baru datang buat mengikuti PKR. Temannya baru Maya yang datang. Sesekali menyesal mengapa datang terlalu cepat untuk registrasi pendaftaran peserta.

“bawaanmu cuma itu, Nggi? ” Maya memperhatikan satu tas ransel dan satu plastic yang agak besar. Untuk mengulik isinya, dia takkan berani. Anggi pasti bakalan ngamuk-ngamuk kalau ada yang usil merhatiin apa yang dibawanya. Tapi penasaran juga hati Maya demi melihat plastic yang diletakkan di dekat tasnya itu. Tangannya menjulur hendak membuka isi plastic punya Anggi.

“Eits.. jangan pegang-pegang!!”

Tuh kan benar dugaannya Maya. Anggi membereng dan memonyongkan bibirnya dua centi kedepan.

“Iya. Iya. Pelit!!”

“biar. Berisik.” Dalam hatinya tertawa,” hehehe.. mau tau aja apa yang aku bawa.”

Lima menit kemudian tampak Indah dan Yuni yang datang bersamaan. Keliatannya mereka sudah janjian berangkat sama.

“Kok bisa bareng, Wah? ” Sosor Anggi tanpa memberikan ruang untuk bernafas kepada keduanya. Mereka berdua seperti ngos-ngosan habis olahraga berat. Oiya, Yuni biasa dipanggil dengan sebutan wah, diambil dari nama depannya yaitu wahyuni. Jadi, harap dimaklumin aja sodara kalau ada bahasa aneh dan yang kurang dimengerti dalam percakapan mereka.

“Iya nih, berat kali bawaan aku. Mana jalan kedalam ini jauh pulak” Yuni memaki-maki kenapa gang menuju sekolah terlalu panjang.

“He-eh. ”Indah ikut mengiyakan.

“EEii.. woi..woi..woi.. udah registrasi?” Ayu teriak-teriak mendekati Anggi dkk. Ia baru sampai juga.

“kok bawaanmu sikit kali Neng?” Maya protes. Nah, kalau Ayu biasa dipanggil neng. Nama lengkapnya Kapriasi Neng Rahayu. Perlu diketahui, Ayu paling benci jika dipanggil Neneng.

Muka Ayu memberengut mendengar panggilan yang ditujukan padanya itu. “Weis.. tenang aja. Percumalah kosan aku dekat dari sini. Ngapain bawa banyak-banyak baju? Kalau habis kan ntar bisa pulang dan permisi ambil baju.”

“Emang bisa?”

“heheh.. Gak tau sih.” Ia nyengir. “Mana wak Nisa?”

Nah, untuk panggilan Nisa, sering diawali dengan sebutan Wak. Sama dengan penyebutan mereka untuk Anggi. Mungkin karena didasari oleh premanisme yang dimilliki keduanya, maklum aja gadis batak. Suka seenak mereka kalau mau bertindak dan merintah sesuatu.

Seseorang diantar oleh Ibunya. Bukan Nisa, tetapi tutik. Anak sibolangit, suatu kawasan diluar medan, memakan waktu tempuh satu jam untuk sampai kesana. Tutik bertubuh gempal, khas orang pegunungan yang tinggal di daerah tinggi dan dingin. Ia terlihat malu-malu diantar Ibunya.

“nak, nanti jangan lama-lama kali tidurnya yah. Itu jaket sama kaoskakinya dipakai kalau malam. Disini kan dingin. Itu tadi ada mama masukkan makanan untuk berbuka, manatau makanan disini gak enak.”

“Iya ma”

“Shalatnya jangan tinggal yah. Kalau ada apa-apa, cepat telfon mama biar mama datang. Yah, nak! Ingat pesan mama, yah”

Ibu itu mencium kening putrinya. Tutik menyalami Ibunya yang hendak pulang usai mengantarnya.

Lima menit kemudian setelah sang Ibu tidak kelihatan,

“Hwaahaha..hahah..” gerombolan Anggi dkk tertawa terbahak-bahak.

“Hihihi.. Tutik!! Sejak kapan kau jadi anak mami gtu? Hihih..” Goda Anggi.

Setahu mereka tutik itu tidak ada tampang untuk menjadi anak mami. Pergi sekolah aja ia berani naik sinabung- sebuah bus dengan rute antar kota- sendiri.  Apalagi pakai acara anter-anteran dan temu pisah seperti adegan yang barusan.

Tutik menjitak kepala Anggi.

“Hush.. orangtua itu. Aku sebenernya gak mau diantar-antar tadi.” Ia memberesi bawaan yang gak kalah banyak dari maya. “mamaku maksa-maksa. Padahal udah kubilang gak apa-apa. Dan ga ada kok orangtua yang ikutan ngantar anaknya. Tapi mamaku maksa-maksa. Pengen liat katanya. Yawdah Ia ikut. Lagian lumayan nih, ada yang bantuin ngangkatin tas. Lumayan juga, aku jadi nggak dikira kabur dari rumah. Bawa segini banyak?? Mending juga aku camping di Sibolangit. ”

“hihih.. cie.. anak mama ni ye..” ejek Yuni.

“Yah.. wajar aja lah, anak kesayangan. Yang paling kecil, yang paling cakep, mamaku kan atut kalau anaknya ini kenapa-kenapa.” jawab Tutik berusaha ngeles. “Angek kelen kan??” Ia beranjak menuju tempat registrasi.

Tinggal satu orang yang mereka tunggu. Nisa. Anak-anak yang lain udah disuruh masuk kamar untuk membereskan perlengkapan yang telah mereka bawa. Sudah pukul 2 siang. Acara pembukaan sudah akan dimulai.

“Nisa jadi dateng gak sih?” anggi menanyakan pada Ayu, yang biasanya duduk dengan Nisa. Mereka sudah berada di lokal kelas I-1, kelas mereka sendiri, yang kebetulan telah disulap untuk dijadikan kamar tidur.

“kayanya sih datang. Kan dia sendiri yang mutusin kalau kita semua ikutan PKR hari ini. “

“Hugh, kalau sempat nggak datang. Anak itu aku cekek-cekek. Enak aja nyuruh orang dateng, tapi dianya sendiri nggak datang.” Anggi masih melongok keluar lokal. Yang ditunggu belum muncul juga.

Seorang wanita masuk ke kamar mereka “adik-adik, kita masuk ke aula yah sekarang. Acara akan dimulai.”

Hingga acara pembukaan selesai dan merekapun shalat ashar, belum ada tanda-tanda kedatangan Nisa. Mereka bertanya-tanya kenapa Nisa belum nyampe juga. Apa gerangan yang terjadi dengan Nisa?

Di kosan Nisa.  Pukul 11.00.

Nisa masih asyik terlelap dengan mimpinya. Ditemani bantal dan guling kesayangannya, mendekap bunny- boneka kesayangannya- erat-erat. Tidak ada yang membangunkannya. Abang dan adiknya telah pulang kampung duluan tadi malam. Jadi, nisa tinggal dirumah sendiri dan sahur sendiri tadi pagi. Puasa pertama yang biasanya dilewati di rumah bersama keluarga, kali ini dihadapinya sendiri. Tadi pagi ia bersyukur ada yang membangunkan sahur. Anak-anak remaja mesjid yang berkeliling membawa kentongan di sekitar rumah penduduk mampu membuat ia terbangun dan sahur. Setelah subuh, tanpa menunggu lama, ia pun melanjutkan tidur.

Dan panasnya tempat tidur lah yang membuat ia membuka mata. Melihat jam dan dengan ekspresi terkejut langsung berlari kearah kamar mandi. Bajunya satu minggu belum dicuci. Apa jadinya kalau ia meninggalkan baju dalam keadaan belum tercuci? Selesai mencuci baju, ia membereskan tumpukan piring dan gelas. Membuat jemuran darurat didalam rumah, antisipasi karena tidak ada yang akan mengangkatnya nanti kalau ia pulang dari PKR.

Oh PKR, jam berapa ini? Pikirnya. Hampir setengah satu. Bukankah registrasi itu pada pukul 10 pagi ini?

Owh No, Owh Yes!! Biarin ajalah. Yang penting beresin rumah dulu, Pikirnya.

Jadilah ia membersihkan rumput di halaman, tumben. Menyapu dan mengepelnya. Membuang sampah ketempatnya. Dan membersihkan WC yang lumayan udah licin itu.

Hingga pukul 2 siang. Ia bergegas mandi, sholat dan memilih baju yang akan dikenakan saat PKR nanti. Cukup lama ia mencocokkan pasangan baju. Karena benar-benar tidak ada yang cocok dengan criteria panitia. Harus bawa rok!! Kok gak bawa sarung aja sekalian, pikirnya.

Hegh.. selesai.

Sudah pukul 3 siang. Ia keluar dari rumah, dengan membawa satu tas ransel besar. Mungkin orang-orang masih mengira aku akan pulang kampung hari ini. Ia tersenyum kepada tetangga dan pamit sambil menitipkan kunci rumah.

Ternyata niat baiknya untuk segera sampai di sekolah di uji Tuhan. Angkot yang biasa ia naiki menuju sekolah satupun tidak ada yang menampakkan batang hidungnya. Jangankan yang kosong, yang penuh aja gak keliatan. Ia mengusap peluh yang menetes di keningnya. Bolak-balik mengecek ongkos di saku depan tas, takut ketinggalan.

Akhirnya. Ada juga angkot A97 yang lewat. Alhamdulillah, ujarnya.

Perjalanan memakan waktu lima belas menit hingga ia sampai di sekolah. Pukul setengah empat dan disana sepi. Apa aku yang salah hari yah? Jangan-jangan besok acaranya. Ia mencari-cari Anggi dan teman-temannya.

Ha.. ada kakak-kakak disana. Ia menghampiri. Ternyata yang lain sedang shalat ashar. Registrasi sebentar dan ia pun masuk kamar. Meletakkan barang yang dibawanya di dekat tas Anggi. Nisa kenal tas itu, karena tas itu yang sering dipakai Anggi ke sekolah.

Shalat asar sebentar di kamar. Dan Ia melanjutkan tidur. Lagi.

Advertisements

2 thoughts on “Sanlat di Hari Pertama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s