aceh- medan – Prapat -Sibolangit-Kabanjahe –lampung, semua satu jurusan.

Sewaktu pendaftaran, Nisa sempat berkenalan dengan Ayu, Kapriasi Neng Rahayu, anak asal Prapat. Sebuah lokasi yang terkenal sampai ke luar negeri karena mempunyai sebuah danau yang indah, yaitu Danau Toba. Seperti namanya, ayu memang se –ayu namanya. Entah kenapa, ia merasa senang berteman dengan Ayu. Hingga masa ospek, mereka pun selalu berdua. Ayu teman yang menyenangkan, berawal dari pinjaman sebuah pulpen saat sedang ujian, akhirnya pertemanan itu berlanjut.

Dan sesuai dengan namanya pula, Ayu mendapat banyak fans saat ospek. Apalagi kalau bukan kakak-kakak senior yang memang suka cari perhatian dengan Ayu.  Tapi dasar Ayu, memang anaknya perhatian dan baik, entah dia memang baik atau memang tidak mengerti, kalau kakak-kakak kelas itu hanya ingin berebut-rebut perhatian dengannya. Nisa malas dekat-dekat dengan Ayu, saat Ayu sedang dikerubuti fans-fansnya, istilah yang dipakai Nisa, Ayu lagi banyak penggemar.

Pada saat ospek, ada anak yang mencuri perhatian Nisa. Anak cewek dengan kulit sawo matang, rambut pendek dan agak kalem. Yang membuatnya memperhatikan adalah tanggal lahir yang tertera di kertas karton yang dipasang di punggung yang dijadikan identitas siswa. Tanggal lahirnya hanya berselang dua hari dari tanggal kelahirannya. Nisa seolah-olah telah menemukan kembarannya.

Belakangan ia tau, namanya Wahyuni. Padahal asli, mirip juga nggak dengannya. Nisa memang pernah bercita-cita mempunyai seorang kembaran, terkadang ia membayangkan, kalau saudara kembarnya itu memang sengaja dipisahkan dari dirinya karena orangtuanya tidak sanggup mengurus Nisa yang memang lumayan bandel sebagai anak cewek. Satu aja repot, apalagi mengurus dua, begitu pikir si Nisa.

Ada juga Anggi, cewek tomboy yang dikenalnya saat ospek. Anggi banyak diisengin sama kakak senior. Mungkin karena sifat pembangkangnya itu. Sering membantah senior. Keduanya, Yuni dan Anggi adalah asli anak medan.

Hari ketiga ospek, mereka masih dalam seragam putih-biru. Seragam sewaktu SMP itu hampir saja dibuang Nisa, kalau tidak mengingat baju itu masih dipakai saat ospek mungkin baju itu sudah berpindah alam.

Nisa menghampiri Ayu yang ada dikantin, ternyata Ayu bertemu teman sekelasnya dulu saat SMP, namanya Dimas. Mereka satu sekolah di Siantar, kota kecil yang sedang berkembang. Malas lama-lama disitu, ia berjalan-jalan sendirian melihat suasana sekolah barunya. Sendirian saja, dengan pedenya duduk di anak tangga yang berhadapan dengan halaman sekolah.

Ia menyisir rambut dengan tangan kirinya dan mencuil-cuil bakwan yang sempat dibelinya tadi di kantin. Teh manis dingin diletakkannya begitu saja di sebelah roknya.

“Hei.. ngapain?” seseorang dengan rambut dikepang dua menghampiri.

“Hehe.. gada. Makan nih.” Nisa tersenyum sebentar dan melanjutkan aktifitasnya.

“Oya, belum kenalan. Tutik.”

“Nisa. ”

Nisa mulai mengalihkan perhatian makanannya ke makhluk di depannya itu. Sepertinya cukup menarik. Muka anak itu selalu berseri-seri. Kemudian dari perkenalan, diketahui kalau Tutik anak Sibolangit, daerah pegunungan yang menuju ke berastagi, kota buah. Ia berangkat kesekolah naik bus Sinabung, pulang-pergi. Bus yang selalu berisi dengan inang penjual sayuran jika ingin berjualan ke Medan. Kawasan dengan mayoritas umat Nasrani, tepatnya batak Toba.

Ternyata anaknya cukup kocak, Nisa merasa nyaman berteman dengannya. Ayu datang menghampiri dan berkenalan juga, mereka menjadi sangat akrab, padahal baru saja berkenalan.

“Oya, kemana-mana kok sendiri aja, Nis?” tanya tutik.

Merasa heran dengan pertanyaan itu, ternyata tutik sudah memperhatikannya sejak awal ospek.

“Hegh? Masa’ sih?” Dia memang tidak menyadari itu. Sebenarnya yang membuatnya enggan berkenalan karena malas untuk berkenalan duluan.

“Iya. Anak ini cuek kali. Macam gada kejadian gtu. ” Ayu tertawa.

“Hehe.. begitu yah? Aku males kalau mau kenalan ama yang laen, takut gak nyambung. Lagian aku perhatikan mereka dari kalangan atas semua.  Lagian aku bukan tipe ramah atau penyebar pesona, kayak anak ini.” Gantian Nisa yang menunjuk Ayu.

“Hehe.. sori-sori.. kalau aku selalu meninggalkanmu..” potong Ayu dengan sangat perhatian.

“Lagian aku sebenernya malas temenan ama cewek. Mereka terlalu ribet. Centil. Kayak gada kerjaan aja ketawa-ketiwi kayak gtu. Tuh..” Menunjuk kearah Anggi dan Yuni.

“OO..” koor yang sama dari Tutik dan Ayu.

“Malah aku kira, kalau kau itu anak cina yang kesasar masuk sekolah ini hehehe..” , sambung Tutik lagi. “Lebih parahnya lagi, awalnya aku kira kau ini anak dari sekolah katholik mana gtu.. huehuheuhe..”

Cabe-cabe bekas bakwan melayang dengan segera kearah Tutik.

Saat pembagian kelas, Ayu dan Nisa sekelas di kelas I-1. Berpisah dengan tutik yang memasuki I-3. Ternyata mereka sekelas juga dengan Yuni dan Anggi.

Duduk di bangku belakang mereka, Feri dan Jaya.

“Woi.. kalau mau cakap batak, pulang sana ke Kabanjahe.” Ketus Nisa. Kesal karena Ia sama sekali tidak mengerti apa yang mereka katakan. Mentang-mentang berasal dari kampung yang sama, suka mereka saja berbahasa daerah disini.

“Ulang kam beginda..” sahut jaya. “Lanjut Fer.. sampai dimana.. tadi?” logat mereka sangat kental, tanpa menghiraukan dua makhluk yang berada di bangku depan, mereka mengobrol lagi.

“Woiiiii.. ” Nisa menghentak meja, mencari perhatian kedua orang gunung itu. “Pergunakanlah Bahasa Indonesia Yang baik dan Benaaaarrr….”

“Bisinglah kam..” kali ini feri yang bersuara. Tampaknya mereka memang tidak mau menjunjung semangat sumpah pemuda butir yang ketiga. Yaitu, mempergunakan bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Ayu mengikik. Ia sebenarnya mengerti apa yang mereka ucapkan, kebetulan dulu di sekolahnya ada pelajaran bahasa Daerah. Salah satunya bahasa karo.

Syafriza yang kebetulan duduk di barisan ke dua, dibelakang Jaya dan Feri, hanya senyum-senyum. Nama lengkapnya sih, Syafriza Brando Ginting. Biasa dipanggil Riza, safri, sapi, brando, dan  ando. Asal jangan disama-samakan dengan Nicholas Saputra aja. Katanya, nanti Nicholas saputra minder punya saudara kembar kayak dia. Alasannya, Nicholas merasa sedih, karena tidak mempunyai tampang yang tampan seperti dirinya. Huh.

Ohya, anak ini berasal dari Lampung. Heran, kenapa sampai nyasar di Medan. Pernah Nisa menanyakan alasan Syafriza kenapa bisa sekolah di STM ini.

“Disana gada sekolah, yang ada cuman gajah. Aku gak mau sekolah sama gajah.” Sahutnya kalem. Lah?

Dikelasnya ada juga sepasang tuyul yang duduk sejajar dengan meja syafriza. Sebenarnya bukan karena tampangnya yang mirip tuyul. Tetapi karena potongan rambut keduanya yang kebetulan sama. Sama-sama botak. Jadilah, anak-anak sulit membedakan keduanya. Yang membuat mereka sama, hanyalah dari segi rambut dan asal daerah mereka yang sama, yaitu aceh. Kawasan Sumatra yang terletak paling ujung. Syukurnya saja mereka tidak menggunakan bahasa aceh di kelas. Mungkin akan terdengar suara pletak pletuk nantinya. Hihihi.. orang aceh terkenal sangat cepat dalam berbicara, hingga terkesan yang terdengar hanya tak-tuk-tak-tuk. (peace ah!!)

Hari pertama masuk belajar, suasana kelas masih ramai dengan perkenalan. Banyak anak perantauan, kebanyakan dari luar kota Medan.

Dan sepertinya, Nisa tidak menyesal dengan pilihan yang telah diambilnya.

Advertisements

6 thoughts on “aceh- medan – Prapat -Sibolangit-Kabanjahe –lampung, semua satu jurusan.

  1. ayu says:

    Nisa nisa…

    Senyum2 membaca tulisan mu nisa..

    udah 10 tahun berlalu.. gak kerasa yah nis?

    Semua sudah dengan kehidupan masing2… tetapi kenangan itu akan tetap ada dan abadi jika dituliskan..

    Kaulah yang membuatnya abadi..

    Nisa itu memang cuek..kayak bebek 🙂

    hehe… tapi…. nisa is my best friend i ever had 🙂

  2. Cek Lan says:

    Numpang lewat nis
    lg keliling-keliling ketemu blogmu
    singgah sebentar baca episode kehidupanmu

    Oh ya..
    Barokallahu laki wabaraki alaiki wajama’a bainakuma fil khor..
    Afwan ya aku g dapat kbr walimahanmu kmrn..
    Salam buat kang mas ya..

  3. undo says:

    >>“Disana gada sekolah, yang ada cuman gajah. Aku gak mau sekolah sama gajah.” Sahutnya kalem. Lah?<<

    wah nis… masa, aku jawab gitu sih,,, ini kayaknya terlalu di dramatisir hihihihihihi

    lanjutkan nis, sapa tau ada diangkat jadi film
    xixixxi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s