Pilihan

Jika manusia boleh memilih, mungkin banyak yang akan memilih untuk menjadi orang sukses, tanpa perlu bekerja keras, tanpa perlu bersusah payah dan segala sesuatunya serba ada. Bisa menjadi pintar tanpa harus belajar, kaya tanpa perlu bekerja, makan tanpa perlu memasak dan bisa terbang tanpa sayap kalau perlu.

Tetapi hidup adalah pilihan-pilihan, dimana setiap pilihan yang telah kita ambil akan mendapat konsekuensi tertentu pada hidup yang kita jalani. Begitu pula konsekuensi yang diterima mungkin tidak selalu sama, tergantung cara kita menyikapi baik dan buruknya. Bagi orang bijak, dapat menerima konsekuensi yang dipilih merupakan salah satu cara untuk belajar tentang hidup, bahwa hidup tidaklah semulus yang kita inginkan. Ada kehendak lain yang berperan dalam hidup ini. IA yang mempunyai kehendak, yang telah menggariskan berjalannya kehidupan.

Matahari yang berpijar pada tempatnya, bumi yang berputar pada porosnya dan bulan yang selalu berjalan dengan setianya mengitari bumi. Semua telah berjalan sesuai dengan porsinya masing-masing tanpa harus bersinggungan.

Begitu juga yang dialami Nisa kali ini, ia harus memilih.

Harus masuk kesekolah mana usai menyelesaikan pendidikan SMPnya. Ia sangat ingin masuk kesekolah negeri favorit yang ada di Medan. SMUNSA, Sekolah Menengah Umum Negeri  1, sekolah yang menjadi pilihan nomer satu dalam lembar pilihan sekolah SMU yang kini sedang di isinya. Sedangkan pilihan kedua, diletakkannya pada SMUNDA Sekolah Menengah Umum Negri 2, yang kebetulan letaknya dekat dengan rumah.

Tapi apalah daya, sering sekali harapan tak seindah kenyataan. Selang beberapa hari ia mendaftar, ternyata NEMnya tidak cukup tinggi untuk terdaftar di SMUNSA, ia lulus di SMUNDA.

Tetapi sebelumnya ia juga telah mendaftar di sekolah STM, SMK TELKOM Sandhy Putra. Dan ia telah lulus sampai penyaringan yang ke dua, tinggal tes yang terakhir. Ia cukup bangga bisa mengalahkan beberapa anak yang juga ikut mendaftar disana. Dari sekian banyak yang terdaftar, hanya setengah yang diterima di sekolah tersebut.

Dan sekarang ia kebingungan, untuk menentukan pilihan itu. Ini hari terakhir daftar ulang di SMUNDA, sedangkan ini juga hari terakhir pengumuman diterima atau tidaknya ia di STM itu.

“Ma, gimana?” Ia masih gelisah, ia sedang menunggu hasil pengumuman di STM saat ini. Sedangkan pengumuman masih sekitar 2 jam lagi. Dan dua jam lagi pendaftaran ulang di SMUNDA akan ditutup. Mama yang sama-sama menemani juga bingung. Kebetulan Mama- nya ikut untuk urusan pembayaran uang pembangunan, itu jika nantinya Nisa dinyatakan lulus.

“Udah, Nisa pergi mendaftar aja ke SMUNDA. Biar Mama yang nungguin disini. ”

“Memang gapapa ma? ” Nisa membayangkan perjalanan ke SMUNDA, cukup jauh. Manalagi gada angkot yang menuju sekolah itu. “Kalau nama Nisa nanti dipanggil, trus orangnya gada gimana?”

“Nanti Mama yang mengatur. Udah, Nisa pergi aja mendaftar kesana.”

“Kan mesti bawa orangtua, Ma.” Nisa masih panik. “Nanti, Nisa harus bilang apa sama guru disana?” Ia menarik-narik dan memainkan rambutnya yang sebahu itu.

Akhirnya Nisa pergi meninggalkan Mamanya di STM. Dengan membawa uang seadanya, takut ada registrasi yang akan dibayar disana, Ia bergegas pergi mengingat waktu yang semakin sempit. Jam duabelas nanti pendaftaran akan ditutup, ia baca kemaren di kertas pemberitahuan beberapa hari yang lalu saat ia dinyatakan lulus dan harus segera daftar ulang.

Satu buah angkot lewat, ia menyetopnya.  Sampai di perempatan ia turun, tidak ada angkutan yang sampai ke depan sekolah SMUNDA, ia harus melanjutkannya dengan berjalan. Cukup jauh, hampir 500 meter. Hingga di depan sekolah, ia masih ragu-ragu antara melanjutkan dengan tidak untuk registrasi ulang. Kata seseorang, bila terdapat hal-hal yang meragukan lebih baik ditinggalkan. Tapi gak mungkin dengan kondisi yang seperti ini, batinnya. Iya kalau aku nanti lulus di STM, kalau tidak, dimana aku akan bersekolah? Untuk memberatkan orangtuanya di sekolah yang lain sepertinya tidak mungkin. Lagipula ia tidak ada gambaran akan bersekolah dimana kecuali di antara keduanya saat ini. Yang mana saja, ia sudah cukup bangga untuk dapat bersekolah disana, dua-duanya membanggakan.

Ia mengetuk salah satu ruangan, disana ada beberapa guru, mungkin salah satunya akan menjadi guruku nanti.

“Pagi, Bu. Saya mau daftar ulang.”

“Oh, kenapa lama sekali? Pendaftarannya sudah mau ditutup. Kok sendiri? Mana orangtuanya?” Guru tersebut mengambil formulir pendaftaran dan mengambil data siswa yang telah lulus di sekolah itu.

“Iya maaf, bu. Orangtua saya kebetulan berada di luar kota. Jadi saya datang sendiri.” Hupfh. Berbohong. Tapi sebenarnya tidak kok, hatinya membenarkan. Orangtuanya memang bekerja di luar kota. Lantas kebohongannya terletak dimana? Ayah, memang sedang berada di luar kota. Ayah tidak ikut untuk mendaftarkanku bersekolah. Hanya mama. Yah, keduanya adalah orangtuaku.

“Siapa nama kamu?”

“Annisah Husni Daulay, bu.” Ia menunjuk ke urutan namanya berada pada daftar anak yang lulus.

“Hm.. jadi bagaimana kamu ini? Gak bawa orangtua. Jadi bagaimana dengan baju seragam yang mau dijahitkan ini?” Guru tersebut melihat ke Guru lain, mencoba meminta pendapat mereka.

Nisa merasa serba salah. “Eng.. nanti sewaktu masuk sekolah, kedatangan saya yang kedua kali, akan saya bayar , Bu.” Terpaksa ia mengucapkannya. Ya, Allah, Maafkan Nisa kali ini. Mudah-mudahan ini yang terbaik.

Guru yang lain mengangguk setuju. Nisa mengisi beberapa form pendaftaran ulang dan menandatanganinya. Salah seorang mengukur badan dan tingginya. Allah, maafin Nisa, desahnya.

Setelah beberapa waktu. Usai memberitahu apa saja yang harus dibawa sewaktu ospek, Ia pun pamit. “Baik, Bu. Sudah selesai yah? Saya permisi dulu yah, Bu. Assalamualaikum. Siang, Bu.”

“Waalaikumsalam. Iya.”

Dari jauh Nisa kelihatan mendekati mamanya. Ia sangat ngos-ngosan harus berjalan beberapa kali. Dari depan hingga masuk kedalam sekolahnya sangat jauh juga, hampir 200 meter. Ia sempat tersenyum kepada Ayu, salah seorang yang dikenalnya saat sama-sama mengikuti ujian masuk sekolah ini.

“Gimana, Ma?”

“Duduk dulu.” Mama diam sejenak. “ Nisa diterima disini.”

“Alhamdulillah.. hupfh..” ia mengusap dadanya. “Syukurlah.. tapi Nisa capek kali, Ma. Mana tadi mesti bohong sama guru disana..” Ia cerita tentang registrasinya tadi di Smunda.

“Jadi?”

“Apanya yang jadi, ma?” Nisa heran.

“Udah mantap mau sekolah disini? Udah dipikirkan betul-betul, Nisa emang bener mau sekolah disini? Jangan sampai menyesal, kalau mama hanya bisa membantu dalam hal biaya. Yang menjalani nantinya adalah Nisa. Mama dengar, sekolah ini berat. Banyak persaingannya. Jika Nisa benar-benar sudah memutuskan, mama tinggal membayar uang pembangunan pertama yang diharuskan membayar sekarang ini. Mama gak mau kalau nantinya uang yang mama keluarkan sia-sia. Benar sudah yakin?”

Nisa berfikir. Sebenarnya untuk masuk STM adalah cita-citanya, bisa berteman dengan yang banyak teman laki-laki, karena berteman dengan perempuan itu memusingkan baginya. Terlalu cerewet, contohnya Mama. Nah lho?

STM, yang ada dibenaknya adalah banyak praktikum nantinya, pasti seru. Tidak akan banyak hafalan, geografi, ekonomi. Pelajaran memuakkan yang pernah dipelajarinya. Karena kebanyakan pelajaran harus dihafal. Ia benci menghafal, lebih baik disuruh keliling lapangan daripada disuruh menghafal. Tapi satu hal yang sedikit disayangkan baginya. STM ini tidak akan mempelajari biologi, salah satu pelajaran kesukaannya. Padahal ia ingin sekali menjadi dokter. Nah lho? Lagi.

Kalau di smu negri, mungkin ia akan mendapatkan pergaulan yang lebih leluasa lagi. persaingan secara finansial mungkin, itu yang ditakutkannya. Sedang ia hanyalah orang yang biasa saja, dalam segi ekonomi. Tapi, disana akan banyak cowok-cowok keren. Cowok-cowok kaya. Hatinya menggoda. Tidak. Ia harus memutuskan.

“Iya, Ma. Disini aja. Nisa mau sekolah disini.”

“Yakin?”

Tanpa diminta yang kesekian kali, ia memantapkan jawabannya, ”Iya Ma, udah Mama bayar aja semua itu uang-uang yang diminta mereka.” Ia mendorong-dorong Mama dengan manja. “Cepat yah, Ma. Nisa udah laper kali nih..” Sifat memerintahnya itu entah kenapa keluar dengan tiba-tiba. Mama bergegas kedalam sekolah.

“Bajunya tangan panjang atau gak, Bu? ” Tukang jahit itu bertanya pada mamanya.

Ditanya begitu, Nisa reflex menjawab, “Tangan panjang aja, pak! Roknya juga yang panjang.” Ucapnya mantap. Saat itu Nisa sedang diukur pakaian untuk pakaian seragam sekolah, mereka sedang berada di salah satu ruangan di sekolah, di STM tepatnya.

Mama mendelik ke arahnya, “Lho kok?”

“iya ma. Nisa mau pakai jilbab.” Tanpa memandang kearah Mama. Ia tahu, Mama tidak akan setuju akan keputusannya.

“Satu pasang aja, pak, yang panjangnya. Satu pasang lagi yang biasa, gak usah panjang. Yang penting tidak pendek roknya.” Potong Mama.

Sepertinya penjahit itu tau apa yang dipikirkan Mama, “Biasanya bu, disini yang muslimah memakai jilbab. Dari tahun ke tahun ada himbauan oleh kakak- kakak kelasnya untuk mewajibkan anak perempuan untuk berjilbab. Walaupun STM, tapi yang muslimah pakai jilbab semua kok, Bu. “

Nisa tersenyum penuh kemenangan, melihat sekilas kearah Mama yang mendongkol. Ups, ia segera membuang muka, pura-pura sibuk di ukur, untung Mama tidak melihat senyumannya. YES. Hati Nisa bersorak.

“Jadi gimana, Bu? Tangan panjang dua-duanya.”

“Yawdah.” Nada suara Mama sangat jelas terdengar terpaksa.

“lagian, bu. Saya terkadang suka repot sendiri sama permintaan murid sini. Seperti yang kemaren, ada yang sudah mesan pakai tangan pendek, eh, tiba-tiba karena mendengar dari kakak kelas mereka tentang kebiasaan berpakaian disini, akhirnya ada yang minta supaya dijahitkan yang tangan panjang aja. Kan saya yang repot, Bu.”

Dan sepanjang perjalanan pulang Mama hanya diam.

Advertisements

4 thoughts on “Pilihan

  1. * yang ketangkap cuman :
    – di SMA negeri ada cowok cowok kaya *kekekekeek* gitu yaaa….*masih geli*

    – berteman sama perempuan memusingkan…krn cerewet*hehehehee* dan kenyataanya dikau pun cerewet *peratiin di FB n YM * hehehehehehehe

    Dek..dek….. jadilah perempuan sejati..menjadi muslimah sholehah,isteri sholehah dan nantinya ibu sholehah InsyaAllah …

    *selamat datang diperjuangan hidup baru menjadi sholehah…InsyaAllah *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s