Sebuah Keputusan

Kata-kata tentor Dian, masih mengiang-ngiang di telinganya. Ini sudah seminggu dari libur sekolah semester ganjil. Formulir untuk menjadi dosen tetap masih ditangannya.

Saat tanpa ada niatan sedikitpun untuk curhat. Hanya sekedar ingin mengasah kemampuan speaking dan listening. Syukurlah hanya mereka berdua. Dengan orang ketiga yaitu setan. Ah, toh yang didepannya itu bukan siapa-siapa. Hanya sebatas guru dan murid. Dan yang menjadi muridnya saat itu adalah Dian. Dian sedang kursus bahasa Inggris.

Dimulai dengan pertanyaan sederhana. How long will u have been life?

Maybe at least sixty years old, sir. Jawabnya sekenanya. Mengakui bahwa itu adalah jawaban tersingkat dan terpayah yang dijawabnya, tanpa memberikan alasan. Pasti nantinya akan ditanya kenapa.

“Why? “

“Tuh kan”, teriak hatinya. Why?

Sebenarnya sangat mudah menjawab pertanyaan tersebut kalau lah dalam bahasa Indonesia, bahasa yang biasanya digunakan. Bukan dalam bahasa inggris seperti ini.

Banyak alasan yang ingin ia utarakan. Mengapa? Tentu saja alasannya semakin banyak hidup semakin banyak dosa. Ia selalu berpikir seperti itu. Alangkah baiknya umur yang sedikit tetapi bermanfaat. Daripada kelamaan hidup dan menanggung dosa yang banyak juga. Bukankah rasul, sang Nabi pembawa risalah kehidupan ini juga mempunyai umur yang tidak panjang, pikirnya. Sepertinya akan sangat sombong sekali orang yang mengatakan bahwa dirinya akan mempunyai umur yang panjang, sampai delapan puluh atau seratus mungkin.

“Why?” Pertanyaan itu diulang lagi. Sepertinya tentor yang satu ini tidak akan berputus asa menanyakan pertanyaan yang mengundang banyak jawaban itu.

“Eng, because I just want to life with a shorty lifetime, sir. “

“Ohw? Sure? Isn’t this life so boring? Cant you explain it to me?” Lagi.

Rasanya ia ingin lari dari ruangan 4 X 4 meter itu. Ruangan itu udah seperti ruangan interogasi dan ruang tahanan baginya.

Hatinya sebenarnya telah mewakili jawabannya, yah karena hal yang itu tadi. Tapi yang keluar
hanya. “Yeah, life is too boring sir, everything likes same. Nothings changed.”

“Ohw?” Lagi tanggapan yang sama. Ia menggaruk jilbabnya yang semakin gatal. Ah, mengapa kak Deby tidak hadir hari ini? Atau Bayu kenapa pula tidak datang? Kemana semua orang? Seharusnya mereka yang menjawab pertanyaan ini. Padahal di luar sejak sejam lalu sudah tidak hujan lagi. Dan lagi-lagi, Dian seperti bisa menduga jawaban yang kini ditanggapi tentornya itu. Pasti ia menganggap Dian adalah orang yang pesimis. Tidak mempunyai arah hidup. Tidak mempunyai cita-cita. Orang yang selalu bekerja sesuai dengan aturan. Tanpa ada dinamis dalam kehidupan. Begitu saja setiap hari tanpa ada perkembangan. Mungkin ia juga akan dianggapsebagai orang yang berpikiran bahwa hidup ini tidak indah.

Bah. Dan dugaannya tidak meleset. Ia mengerti apa yang diucapkan sang tentor. Setiap kata yang diucapkan tentornya itu sangat dipahami olehnya. Tapi ia tidak bisa membantah satu katapun. Hanya bisa mengangguk dan berkata yes-no saja.

Akhirnya entah kekuatan kata dari mana, “I’m boring, I’m boring teaching in my school, sir, its not like me. I’m not enjoying myself. I’m don’t like teaching honestly.” Bah. Perkataan apa yang barusan keluar dari mulutnya? Tidak. Itu bukan kata yang keluar dari mulutnya. Tapi kata yang tersampaikan oleh hati nuraninya selama ini. Ia memang benar-benar tidak suka mengajar anak-anak. Ia selalu terbebani. Air di sudut-sudut matanya hampir melonjak. Ia mengucapkannya dari dalam hatinya yang terdalam. Ia benar-benar terkejut dengan ucapannya sendiri. Ujung jilbabnya sudah terpilin sekian kali.

“Oh, I see. I understand you. You aren’t really like your job, don’t you? Give me some reason.”
Banyak. Banyak sekali. Dian menjelaskan terbata-bata. Kacau sekali. Sudah terlanjur. Terserah apapun pikiran tentornya saat itu.

“So, why don’t you go out from there? C’mon. Go out from there. Take everything that’s you like. What do you like? “

“Writing maybe. Photograph, I like desaign. I want to be a desaigner or maybe a writer, or maybe an ustadzah.” Jawaban yang terakhir disimpannya di dalam hati.

Yah, mengapa tidak keluar dari sana? Cari sesuatu yang menyenangkan? Ia menyadari hidup itu memang sangat indah. Sangat-sangat indah, bukan karena sang tentor yang mengatakannya maka ia menyetujui kata-kata tersebut. Tidak. Ia adalah orang yang beragama, seorang muslim. Sedangkan sang tentor sama sekali bukan seorang muslim. Bukankah jalan yang ditempuhnya adalah jalan keselamatan. Ia tidak meragukan hal itu. Apa tandanya kalau ia tidak meragukan jalan itu? Ia telah membuktikan bahwa jalan hidup yang dipilihnya telah benar, dengan menjalankan ketaatan menjalankan perintah berupa berjilbab dan hal lainnya. Tapi tidak saat ini. Ini bukan soal keyakinan tetapi keputusan memilih. Ia harus memilih. Sekali lagi harus memilih masa depannya.

Dan ia memilih, akan meninggalkan sekolah tahun depan. Ajaran baru. Yah, menjadi dosen saja sepertinya bagus baginya. Tetap akan menjadi amal jariyah baginya dan ilmunya juga dapat berkembang di perguruan tinggi di tempatnya mengajar saat ini. Dan ia juga akan menjadi ustadzah. Ustadzah?

Dian menyungging senyum untuk harapannya yang terakhir.

Advertisements

2 thoughts on “Sebuah Keputusan

  1. ayu says:

    🙂

    nice story,

    life is so short,

    Kata-kata di buku si cacing dan kotoran kesayangannya “jika kau telah berumur 60 tahun dan telah renta, maka kau tidak akan menyesali lagi kenapa cita-citamu tidak terwujud, harapan mu tidak terlaksana, ttp kau akan menyesali kenapa hidup terlalu singkat bersama dengan orang-orang yang kau kasihi :-)”

    dan tulisan ini mengingatkan ku akan cita-cita, tujuan hidup, dan kehidupan sebenarnya itu sendiri, tidak semua cita-cita dapat diraih 🙂

    • hmm.. butuh keberanian buat ngambil keputusan neng,
      bagaimanapun yang bakalan ngejalanin enak atau gak enaknya entar adalah diri sendiri 🙂

      terkadang punya keinginan besar sih buat melakukan sesuatu, tapi yah gtulah.. keberanian itu sendiri yang gak ada.
      ibaratnya itu seperti katak dalam tempurung, taunya cuma didalam dunianya sendiri.. ah ngomong tu gampang yah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s