Embun Pagi

Kalau kau pernah bangun di pagi hari dan memandang diluar sana, di antara bunga-bunga. Disana ada butir-butir bening disetiap tangkai bunga yang sedang berkembang. Katanya dulu, sewaktu aku kecil, kalau butir bening itu di oleskan ke mata dan saat kita membuka mata, akan terlihat makhluk-makhluk halus yang sedang berkeliaran. Wuih, membayangkannya saja aku sudah ngeri. Apalagi kalau disuruh buat mempraktekkannya.

Walaupun aku bandel, jarang sholat. Gini-gini aku tau. Kalau yang seperti itu namanya syirik. Jangankan buat maen jelangkung, maen arwah-arwahan, maen ramalan aja aku sering ogah kok.

Tapi pernah juga, saking penasarannya, aku bertekad buat bangun pagi. Aku penasaran dengan apa yang dikatakan orang. Aku ingin melihat sosok yang dikatakan orang kuntilanak. Apa benar dia itu wanita yang cantik? Terus tuyul. Apa benar sosoknya lucu dan botak seperti yang ada difilem dono kasino indro itu? Dengan tekad yang kuat, aku berjanji akan bangun pagi besoknya.

Tapi ternyata, aku tidak cukup kuat untuk melawan rasa kantuk yang ada di mataku. Aku terlelap pulas lagi setelah mendengar azan sholat subuh. Lebih baik aku tidur, pikirku.

Oh ya, kau belum tau namaku kan? Aku embun. Panggilanku Eem. Jangan pikir aku ini seorang wanita. Aku laki-laki tulen.

Saat ini aku duduk di kelas 3 es-em-pe. Seharusnya aku sudah kelas 2 sma nih. Gara-garanya bapakku gada uang, makanya aku harus nganggur dulu dua tahun. Setahun sewaktu tamat kelas enam dan setahun lagi sewaktu mau naik kelas tiga yaitu tepatnya setahun yang lalu. Sebenarnya bapakku gak salah sih. Yang salah itu kenapa hidupku melarat terus? Seolah-olah keluarga seperti kami ini memang gak pantes buat jadi orang kaya. Sekali-kali kenapa sih, yang kaya itu nyobain jadi orang miskin. Enak betul hidupnya. Dimana orang lagi hidup-mati karena harga BBM, eh, mereka anteng aja keluar masuk mall dan makan-makan di ke-ef-ce.

Apa iya ,nasib kami begini terus yah? Selamanya jadi orang miskin?

Adikku satu-satunya yang perempuan udah gak disekolahin sama bapak. Adikku itu memang goblok.

Dulu, dia pernah sekolah. Tapi, sudah 5 tahun bersekolah masa sih masih kelas 3 terus? Yah daripada buang-buang biaya buat sekolahnya mending juga dibuat untuk biaya makan, kata bapakku. Yang lebih begonya lagi, sekarang itu dia lagi bunting. Mau aja diajak kenalan, diajak jalan-jalan sama bang idrus, preman beristri dua yang udah berkepala tiga itu. Sukurin tuh, bandel gak nurut apa kata orangtua. Mentang-mentang bang idrus itu minjamin hape buat mirna, adikku. Si Mirna nurut aja sama apa yang dibilang bang idrus. Akibatnya sekarang dia bunting. Hahah.

Hei, Walaupun aku ini jarang shalat. Tapi aku aktif di remaja mesjid dekat rumah. Sewaktu si Mirna ketahuan bunting, sebenernya aku sudah ogah ikutan remaja mesjid. Dicap sok alim. Tau apa mereka? Memang yang jadi remaja mesjid itu harus alim dulu? Enak aja nuduh-nuduh sembarangan. Lagipula yang salah itu kan si Mirna bukan aku.

Terusnya lagi nih yah, sebenernya aku juga berat ninggalin kegiatan yang satu ini. Alasannya cuman satu. Tidak ada anak yang pinter ngaji selain aku. Aku pernah ikutan madrasah dulu. Pernah sekali khatam Quran. Tapi anak-anak disini tidak ada yang pinter ngaji selain aku. Makanya selalu aku yang dijadikan pembaca Quran kalau lagi maulud.

Sebenernya ada juga sih yang pinter ngaji. Suaranya malah sangat bagus. Dia adalah Abang mahasiswa yang ngekost disekitar mesjid itu. Dia yang sering ngajak kami bikin pengajian. Aku sempet heran melihatnya. Kok mau-maunya yah nyempetin ngajarin temenku yang gak bisa ngaji? Padahal gak dibayar. Kasihan terkadang aku melihatnya. Namanya bang Aji.

Adalagi kak Evi. Dia anak mahasiswa juga. Setahu aku, kak Evi dan bang Aji satu tempat kuliah. Kata orang sih, mereka pacaran. Yah, aku gak mau ngurusin hal yang beginian. Mau mereka pacaran kek, mau nggak kek, yang penting aku diajarin ngaji. Titik.

Oya, aku pernah melihat kakak-kakak yang rumahnya diujung jalan itu. Pakaiannya seperti kak Evi. Besar-besar bajunya. Kalau lewat gak pernah senyum. Beda sekali dengan kak Evi yang ramah. Dia tidak pernah bergabung dengan remaja mesjid kami. Padahal orangnya cantik. Aku seneng liat orang cantik. Tapi karena dia sombong, aku jadi tidak suka. Pagi-pagi keluar rumah dengan motornya. Terus pulangnya malam-malam. Tetangga disini sering nyeritain dia. Kata mereka, “Berjilbab tapi kok malam-malam pulangnya.” Weh. Aku kadang suka geli melihat mereka. Bisanya nyeritain orang aja.

Hari ini aku kebagian tugas buat minta sumbangan. Mesjid kami mau ngadain maulud. Harus minta sumbangan ke warga di sekitar mesjid. Nah, aku bingung sekarang. Masalahnya, aku kebagian daerah pengutipan dari mesjid sampai keujung jalan sana. Kerumah kak Alexa. Panggilannya An, aku baru tau tadi begitu membaca nama yang tertera di proposal.

Rumahnya besar. Aku baru kali ini benar-benar kesini. Biasanya cuman lewat aja. Dan rumahnya selalu sepi.

Rumah sebesar ini, tapi yang tinggal cuman betiga.

Ck..ck..ck.. langkahku tertahan masih sampai di pagar. Kalau aku disuruh buat tinggal dirumah seperti ini rasanya ogah. Buat apa coba? Rumah gede, dibuat cuman untuk tidur, diisi cuman buat tiga orang. Denger-denger sih, kak An hanya tinggal sama ibu dan abangnya.

Huh. Kalo yang punya rumah kayak gini sih, palingan juga kayak yang ada di pilem-pilem. Sukanya bikin pesta. Rajin belanja, buktinya aku sering liat kalau ibunya kak An nenteng-nenteng plastik gede yang ada tulisan Ramayana atau Carefour-nya. Aku yakin nih, pasti sumbangannya juga sedikit. Daripada aku kena maki juga seperti sewaktu minta sumbangan kerumahnya Bu Indah yang rumahnya besar juga, mendingan gak usah minta sumbangan kesini juga.

Orang kaya kan seperti itu. Gitu ada firasat yang mau dimintain sumbangan, langsung deh teriak dari dalam bilang orangnya gada dirumah. Padahal belum juga rumahnya di ketok. Atau yang paling sering, mereka ceramah dulu kira-kira satu jam sampai puas. Ditanya-tanyain, butuh berapa? Memang acara apa sih? Yang udah nyumbang siapa aja? Mereka nyumbangnya berapa? Eh, udah capek ngejawabin, ujung-ujungnya cuman dikasih lima ribu.

Pagar rumah kak An warnanya hijau. Warna kesukaanku. Sepertinya memang tidak ada orang. Bukankah biasanya, dia itu pulangnya malam? Siang-siang gini mana ada orang dirumahnya.
Ada suara motor yang mendekat. Aku menoleh kebelakang. Jaket hijau lumut dengan helm bunga-bunga. Itu kak An.

“Assalamualaikum, dek. Ada apa yah?” dia mematikan mesin motor dan tampak merogoh tas, mencari-cari sesuatu. Kunci pagar barangkali.

Suaranya ternyata jauh dari lembut yang pernah kubayangkan. Maksutnya, suara kak An lebih lucu, mirip tokoh sinchan yang sering si Mirna tonton. “Waaaa..a..laikumsalam, kak.”

“Ada apa yah dek? Yuk, masuk dulu.”

“Gak kak, cuman sebentar. Minta sumbangan buat acara maulud minggu depan.” Bergegas kutunjukkan proposal yang lagi kupegang.

“Oh, sumbangan.” Suaranya datar. Tidak seperti di awal tadi.

Tanpa basa-basi dia mengeluarkan dompetnya. Juga tanpa membaca proposal yang aku ajukan. Tampaknya dia sudah hapal betul dengan isi proposal itu.

“Maaf yah dik, cuman segini.” Dia nyengir. “Belum gajian soalnya nih, maaf yah. Maklum aja tanggal tua. Kamu-nya dateng tanggal duapuluh.” Dia melihat tanggal di hape. “Kakak gajiannya sih tanggal dua limaan. Eh, Kemaren kakak ada dihubungin juga sama Aji, diminta buat jadi juri lomba baca surat pendek. Tapi kakak gak bisa. Kakak ngajar sampai malam. Nih juga mau balik lagi ngajarnya.” Dia bercerita tanpa diminta.

Kepalaku berkerut menatap lembaran lima puluh ribu itu. “Beneran nih, Kak?”

“Iya, maaf banget. Kakak, cuman punya segitu. Nih, kalo gak percaya..” Dia tertawa seraya menunjukkan isi dompetnya yang benar-benar kosong.

Aku ikutan tertawa menertawainya. Kakak yang aneh menurutku. “Makasih, Kak. ” aku bergegas menyimpan uang itu kedalam amplop dan beranjak pamit.

Sumpah, aku gak perlu pakai embun biar bisa liat makhluk halus yang seperti malaikat ini. Dan kau tau gak? Senyumnya memang manis sekali.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s