Dilema

Aku seperti sedang mengarang sebuah cerita untuk diriku sendiri. Dan Aku selalu berharap kejadian ini sama dengan dunia nyataku.

Yah, baiklah. Aku menyerah. Kau senang? Bukankah itu yang selama ini kau inginkan? Biar semua orang mengenal kita berdua mengucapkan selamat, karena telah benar-benar memenuhi harapan dan perkiraan mereka bahwa kita memang ditakdirkan untuk bersama.

Tapi sebelumnya ada hal yang harus kau ketahui.

Apa itu?

Aku sudah memutuskan menerima pinangan seseorang. Pilihan ibuku. Sebenarnya sebelum kau nyatakan ingin menantangku saat itu, aku hanya sedang berspekulasi dengan takdir. Saat itu aku sudah memikirkan bagaimana caranya untuk menolak pinangan dari orangtuanya (orangtua-nya lah yang menanyakan kesediaanku secara langsung) Bagaimana mungkin aku menolaknya? Tidak ada alasan yang tepat untukku menolaknya. Sedangkan ibuku juga sangat mendukung –sekaligus berharap inilah jodohku-

Dan hari minggu tepat dimana kau tanyakan kesediaanku untuk kau pinang adalah saat aku telah memutuskan untuk menerima pinangan darinya. Yah, aku menegaskan hubungan kami, bahwa aku menerima pinangannya sore itu.

Kau tahu. Aku berulangkali menanyakan pendapat sahabatku apakah yang aku lakukan ini sudah benar? Apakah ini hal yang terbaik bagi hidupku? Dan jawabannya hanya, cobalah untuk istikharah. Kau harus benar-benar istikharah.

Aku istikharah. Benar-benar istikharah.

Walau hanya dua hari dan aku masih kembali menanyakan padanya apakah yang kulakukan ini sudah benar?
Ah, criteria ibuku ada padanya semua. Tentu dengan dukungan orangtuanya juga. Mereka sangat berharap besar –yah, harapan mereka hampir kupenuhi- aku dapat menikah dengan anak sulung mereka. Seorang guru Bahasa Inggris, PNS pula. Keluarga yang sangat harmonis. Calon ibu mertua dan bapak mertua yang sangat baik. Apalagi saat aku mengetahui ternyata salah satu putrinya adalah akhwat tulen. Aku terpesona dengan keluarganya.

Tapi jujur, seperti yang kau katakan, menikah dengan orang yang dicintai adalah pilihan, sebuah pilihan dimana akan ada pernyataan untuk memperjuangkannya atau melepas orang yang kita cintai.

Sampai disitu aku menarik nafas. Rasanya aku terkena asma secara tiba-tiba.

Dan mencintainya? Aku tidak merasakan chemistry apapun padanya. Persis yang telah kukatakan pada sahabatku. Aku kurang sreg. Sebelum hari pemutusan itu (ingat statusku, akan memutuskan sesuatu?) aku masih mencari-cari kecocokan apa antara aku dan dia. Hal apa yang menarik untukku mendekat padanya. Yah, aku terlalu naïf. Aku hanya ingin mencari ridho ibuku saat ini. Salahkah? Aku harap dengan mendapat restunya pasti hidupku juga akan bahagia.

Lalu aku tertegun dengan katamu, mencintai orang yang akan kau nikahi adalah WAJIB. Wajib itu adalah suatu keharusan yang menyebabkan ridho Allah turun pada diriku, -jika aku kelak benar2 menjadi istrinya-.

Sumpah, dadaku semakin sesak memikirkan itu. Ini bisa terjadi padaku kelak.
Akankah aku akan menjadi istri durhaka kelak? Yang kehadirannya tidak diterima langit dan bumi?
Astaghfirullah. Aku serasa sedang berperan menjadi Anna Althafunnisa saat ini. Yang kena dilema pinangan Furqon, sedangkan untuk menolak pinangan adalah sesuatu yang tabu.


Dan kau. Kau sungguh benar-benar keras kepala. Sungguh, aku tidak tahu terbuat dari apa kepalamu itu. Apa aku yang harus berpura-pura tidak tahu, atau kau yang tidak bisa menerima semua penjelasan dariku?
Kau merasa tertantang dengan ucapanku?

Yahyah. Aku akui, aku sangat nyaman berbicara dan berdiskusi denganmu. Beda dengan apa yang kurasakan dengan dia. Bukan aku bermaksud membandingkan.

Tapi sungguh. Aku hanya mencoba bersikap realistis. Kau takkan sanggup mendapatkanku. Terserah kau mau bilang aku payah. Menyerah sebelum berperang. Atau apalah yang kau ingin katakan.

Aku sudah cukup mengatakan padamu. Bahwa ini berat. Kenapa kau tidak mau mengerti? Bahasa mana yang kau pakai? Bahasa minang atau bahasa jawa?

Kau malah mengatakan, yah beratku memang lebih dari 70 kg. Kau kira itu lucu? Sudah coba kujabarkan Medan-Jakarta jarak yang cukup jauh untuk ditempuh. Kau tahu berapa ongkosnya? Memangnya berapa banyak uang yang kau punya? Ah, diriku tidak pantas mendapatkan perjuangan seperti itu. Hei realistislah. Sudah ada beberapa ikhwan diluar Sumatra yang datang padaku. Dan mundur. Kau tau? Yah, karena harga yang begitu mahal untuk menjemputku ke kota ini.

Yah, kau sudah mulai bisa membayangkannya sekarang. Ohya, mungkin ada satu hal yang belum kau tahu lagi. Mereka –calon suamiku kelak- sudah berencana untuk mengkhitbahku bulan Juli ini. Itupun kalau aku tidak salah perkiraan. Sebab sudah kukatakan padanya juga, bahwa aku ingin menikah hanya pada bulan Agustus di tahun ini. Dan kalau itu tidak terjadi, aku akan melepaskan dia pergi. Pasti kau senang mendengarnya.

Yah, itulah kesempatan keduamu. Aku akan menerimamu pada kesempatan yang kedua –entah itu ada-
Lebih baik memang kau harus mundur. Atau Kau masih merasa tertantang? Baiklah, aku akan balik menantangmu sekarang (bukankah kau suka tantangan?)

Aku menantangmu untuk berbicara pada calon suamiku itu – kelak-, untuk segera mundur, agar tidak usah mengkhitbahku. Karena ada kau yang akan menggantikannya. Yah, kau bisa mengatakan, kau yang akan menggantikan posisinya dan bisa juga kau katakan kalau aku lebih memilihmu daripada dia. Yah, itu adalah rencana (jahat)ku –bukan kita, karena aku yang telah merancang rencana ini-.

Tapi aku sarankan, sebelum kau benar-benar melakukan itu. Lebih baik banyak-banyak istikharah, minta pada Tuhanmu yang terbaik (sepertinya aku memang kurang berhasil dalam istikharah kemarin, yah kau tahu sendiri, aku mengalami dilema yang berulang-ulang). Karna aku yang akan kau perjuangkan ini tidaklah lebih baik dari akhwat biasa yang pernah kau kenal.

Sebelum kau benar-benar melakukan itu, lebih baik kau tanyakan orangtuamu, apakah mereka berminat mempunyai mantu seperti aku ini? Haha, jangan-jangan mereka akan menyuruhmu untuk mencari akhwat di sekitar rumahmu saja. (Aku hafal betul beberapa hal yang menjadi pertimbangan orangtua, padahal itu hanya dijadikan alasan agar anaknya tidak pergi jauh dari pandangan mereka, maksud mereka juga supaya anak-anaknya dapat mengunjungi dan memperhatikan mereka setiap hari)

Dan sebelum kau benar-benar nekat melakukan hal ini, lebih baik kau mempertimbangkan usulku untuk menerima sahabatku sebagai penggantiku. Karena aku tahu, dia adalah akhwat yang lebih baik dariku.
Tapi kalau kau memang benar-benar keras kepala. Silakan perjuangkan dan LANJUTKAN!! (ah, aku tak tahu lagi apa yang harus kukatakan. Lebih baik aku tidur sekarang)

Aku merasa puas membuat cerita ini, dan akhirnya bisa menutup akhir tulisan ini dengan menyimpannya. Hei, aku berencana untuk mengirimkan tulisan tersebut ke salah satu media atau bisa juga akan memberikannya langsung kepada seseorang besok.

Entah apa yang Aku pikirkan. Yah, Langkah yang selanjutnya akan Aku kerjakan adalah pergi tidur. Tidur mungkin sebuah pilihan yang sangat baik.

Advertisements

6 thoughts on “Dilema

    • yahyahyahh.. 😀

      saya lebih suka ambil sikap masa bodoh kalau sudah berhubungan dengan masalah perasaan, karena sebenarnya masih banyak masalah laen yang dipikirkan.
      bukan begitu?

  1. ayu says:

    eh nissssss…..

    jadi??? cerita ini mau bersambung atau membuat penonton penasaran (cailahh..penonton) 🙂

    ahh nisa….

    Hidup memang terkadang rumit yah…

    seperti kata Mr.Oogway (kura2 dalam film Kungfu panda)…
    past is a hystory, future is a mystery, today is a gift…. thats why it’s called PRESENT..

    hihihi… aga ga nyambung sih.. tapi kan sekarang kamu uda tahu kan… mana yang terbaik buat mu..

    Tapi saat sekarang…. adalah saat dimana kamu menikmati nya.. bukan lagi memilih… maka aku bersyukur untuk itu..

    I miss u !!!!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s