Puteri Tidur

Aku tak tahu entah kapan aku dilahirkan ke dunia ini. Yang pasti sekarang aku terbangun. Banyak hal yang tidak kuketahui salah satunya mengapa aku tertidur. Dan dimana ini? Sebuah kamar berwarna putih bersih, dan ugh baunya sangat menyengat hidung, seperti bau apa yah? Otakku berpikir menjelajahi waktu.

“Alhamdulillah, kamu sudah sadar, nak!”

Hei siapa dia? Dimana semua pengasuh? Tunggu dulu, bibik, yah dimana para pengasuhku itu? Bunda dan Ayah dimana? Begitu banyak pertanyaan yang mendesak otak. Tangan wanita itu membelai-belai wajah hingga rambutku. Ah, aku teringat Bunda. Dimana wanita yang kusayangi itu?

“Haus..” Seruku lemah.

“Cepat ambilkan minum, pak!” Perintah wanita itu kepada laki-laki yang tadi tidak sempat kulihat wajahnya karena berdiri membelakangi tempat tidurku.

“Minum nak!” Lelaki itu membantuku meneguk air.

Dia tampak tua, kurus. Mukanya agak pucat, seperti terlalu keras bekerja. Aku tak tahu harus berbuat apa. Berterima kasihkah? Duh, Bunda dimanakah kau berada? Ananda bingung. Ananda rindu akan peluk Bunda, senyum Bunda.

Kutatapi kedua orang itu. Mencari celah di otak. Barangkali aku mengenalnya. Tapi buntu.

“Maaf nak, nama kamu siapa? Tinggal dimana?” Lelaki tua itu menanyaiku.

Apa yang harus kujawab? Aku bingung.

Tanpa menunggu jawaban, seperti tahu isi otakku, Laki-laki itu bercerita.

“Waktu Bapak lagi cari kayu di hutan, Bapak menemukan anak, Bapak lihat anak seperti tidur, tapi lama sekali Bapak tungguin tidak bangun-bangun. Karena hari sudah mulai malam Bapak mutusin untuk membawa anak ini. Takut kalau-kalau ada orang jahat yang gangguin. Sewaktu sudah sampai rumah, anak masih belum bangun-bangun juga.”

Ibu dan Bapak itu berpandangan sejenak. Menghela nafas.

“Bapak dan Ibu yang disini cemas. Jangan-jangan anak lagi pingsan atau ada yang terluka. Terus Ibu nyaranin untuk dibawa ke mantri terdekat saja. Yah, walaupun jaraknya lumayan jauh dari sini.” Sekarang ia menatapku lebih dalam. Ah, tatapan itu. Aku seperti mengenalnya.

“Sampai disana, pak mantri tanya, ini anak siapa? Bapak bilang aja kemanakan jauh. Soalnya kalau dibilang ini anak Bapak, enggak bakalan ada yang percaya. Soalnya anak ini cantik sekali, seperti putri. ”

Aku diam. Mencoba mencerna kata-kata Bapak itu.

“Terus, pak mantri periksa anak. Katanya, anak ini gak apa-apa kok, dia sehat-sehat aja. Kelihatan cuma capek. Sampai-sampai tidurnya gak bangun-bangun, begitu katanya. “

Bapak itu kembali mengamati wajahku. Lanjutnya, “Sepertinya anak bukan orang sini yah? Rumahnya dimana?” Lagi. Itu pertanyaan yang sudah diajukannya tadi.

“Bapak ini, orang lagi sakit kok ditanyain macem-macem sih? Biar, dia istirahat dulu. Nanti kalau udah sembuh, baru ditanyain lagi!” Sang istri menyela.

Ugh, aku ingat sesuatu, tidur. Kalau diingat-ingat kalau tidak salah, aku adalah putri tidur. Yes, akhirnya aku ingat. Aku meringis. Tapi kalau tidak salah juga. Ini kan bukan negeri dongeng? Duh.. bagaimana menjelaskannya yah? Salahku juga sih main-main terlalu jauh ke hutan.

“Nak, Bapak tinggal dulu yah! Biar Ibu aja yang disini kalau ada permintaan bilang saja sama ibu. Bapak mau kembali kehutan. Soalnya kayu Bapak ketinggalan di hutan. Takut diambil orang. “

Bapak itu pun pergi. Oehm.. ngantuk. Situasi begini kenapa sih mata ini gak bisa diajak kompromi? Bawaannya selalu mau tidur.

“Benar yah kamu tidak sakit?” Tanya Ibu itu lembut.

Aku menggeleng

“Hm.. jadi yang tadi itu memang tidur yah? Kebanyakan tidur juga nggak baik. Lihat aja Ibu, sudah tua tapi tetap segar. Itu karena banyak bergerak. Jadi, badannya sehat. Apalagi kalau bangun pagi-pagi..”

Ia diam sejenak mengamatiku. Membelai rambutku.

“Putri.. bangun sayang.”

Ah, itu suara Bunda. Refleks kubuka mata. Ada Bunda disampingku.
“Udah subuh belom?”
Aku mengangguk. Sehabis subuh tadi, aku tidur lagi.

Sekolah.
Pelajaran berhitung, alias matematika ini membuatku mengantuk. Aku menguap berkali-kali. Kulihat papan tulils. Angka-angka yang ada seperti menghipnotisku untuk tidur.

“Yuk, ikut Ibu jalan jalan..” Ah, Ibu itu baik sekali.

Aku mengiyakan.

Kami berjalan menyusuri pinggir hutan. Subhanallah. Indah. Betapa saat ini, aku merasa mungil dihadapan ciptaan-Nya. Air yang mengalir, menuruni bebatuan dan lembah seakan menggodaku untuk melepas kepenatan.
Aku turun ke kali. Ibu itu mengawasiku.

Ah, segarnya air yang membasahi wajahku. Seakan-akan aku masih punya seribu nyawa untuk hidup. Aku ingin tinggal disini. Tapi jika kuingat Bunda, aku jadi tidak tega meninggalkannya.

Aku tegak mengamati sekelilingku. Badanku terguncang.

“Putri, yuk pulang!”

Kulihat kelas sudah rapi. Sepi. Rumus-rumus tadi pun telah hilang dari papan tulis.

Aku tersenyum tipis. Kutarik nafas dalam-dalam. Lalu beranjak mengikuti Tasya yang berjalan di depanku untuk pulang.

Akhir-akhir ini, aku sering berkunjung kehutan. Bapak dan Ibu yang tinggal disana selalu saja tersenyum ketika aku datang. Mereka menawarkanku untuk tinggal bersama mereka. Tetapi kutolak. Mereka tidak pernah bertanya lagi darimana aku berasal, karena mereka terlalu senang melihat kehadiranku disana.

Aku sering menceritakan pengalamanku berkunjung ke hutan kepada Bunda. Tetapi Bunda hanya menangis kalau aku bercerita. Awalnya aku tidak sadar. Tetapi, terakhir kali saat menyadari bunda yang sering menangis, akhirnya aku diam. Kupeluk Bunda dan berjanji untuk tidak pergi kehutan itu lagi.

Sedangkan Tasya yang sering kuajak bercerita, saat mendengarkanku, Ia tak pernah menatapku. Selalu pura-pura sibuk. Pernah sih sekali, ia benar-benar memperhatikan dan yang pasti aku tidak suka melihat sorot matanya. Seolah-olah mengatakan, kasihan.

Aku benci Tasya, aku benci.
Mengapa mereka semua menganggapku aneh? Aku cuma ingin diperlakukan seperti biasa. Aku tidak perlu dikasihani. Mengertilah.

Menjelang ujian semester, aku semakin jarang berkunjung kehutan. Aku sibuk belajar. Aku harus lulus, pikirku. Tak akan kukecewakan Bunda. Harus kutunjukkan bahwa aku pun bisa seperti Tasya dan teman yang lain.

Dikala aku jenuh, aku ingin pergi kehutan. Tapi, kuhempas kuat-kuat keinginanku itu. Aku harus berusaha lulus. Aku ingin meninggalkan kenangan yang baik mungkin disaat-saat terakhirku. Dan akibatnya bisa ditebak. Aku sukses menginap dirumah sakit. Syukurnya aku masih dapat mengikuti ujian susulan dirumah sakit.

Hingga suatu saat Tasya datang menjengukku.

“Putri pernah mendengar cerita orang yang mau mati nggak? Dia merasa ajalnya itu sudah dekat. Orang lain juga banyak yang memperkirakan bahwa umurnya tidak lama. Tapi dia nggak mati-mati hingga orang-orang disekitarnya mati duluan..”

Ah, cerita itu hanya ada di dongeng, bisik hatiku.

Dia melanjutkan, “..Hidup mati itu di tangan Allah gak ada yang tau bahkan gak ada yang bisa menyegerakan ataupun melambatkannya. “

Sampai disitu lalu Tasya terdiam. Seperti berpikir sesuatu. Tasya menarik napas dalam.

“Yang aku tahu, apapun keputusan Allah, kita hanya bisa berusaha, selanjutnya itu mah urusan Dia!” Dia memberikan senyum yang paling manis saat itu. Untuk sesaat, aku merasa apa yang dikatakan Tasya benar.

Yang aku ingat. Ketika ujian akhir telah selesai. Aku dan Tasya berniat untuk mengikuti ujian masuk Perguruan Tinggi. Kami semakin sibuk les ini itu. Aku kembali cemas dalam menghadapi ujian itu. Tasya sepertinya juga.

Saat ingin memilih jurusan apa, ia hanya berkata, “Rahasia..”, lalu melanjutkan kata-katanya, ”Aku takut gak lulus karena pilihanku terlalu tinggi.”

“Ah, Tasya pintar, dari dulu selalu ranking. Pasti lulus.”

Ia meng-Aminkan ucapanku.

Satu bulan berlalu setelah ujian, ia datang dan menyatakan, ia telah lulus di jurusan yang sangat diimpikannya yaitu astronomi. Berulangkali ia mengucap syukur.

“Alhamdulillah Put, aku keterima.” Lantas ia melihat kearahku, “Putri harus selalu sabar dan selalu yakin yah, kalau semua yang terjadi atas kamu itu atas kehendak Allah, karena Allah selalu memberikan yang terbaik buat kamu, aku dan teman yang lain. Karena Allah sayang sama kamu.”

Saat itu, aku kembali berbaring di rumah sakit. Ah, kerjaanku sepertinya hanya tidur saja. Aku bosan. Aku iri padanya. Ujian masuk PTN kemarin, aku tidak jadi mengikutinya.

“Putri sayang, Allah itu tidak pernah tidur. Ia akan memberikan sesuatu kepada seseorang sesuai kadar kemampuan masing-masing orang. Dan yakinlah bahwa ada hikmah dibalik semua itu.”

Lanjutnya, “Caelah… aku kok bisa khotbah kayak gini yah? Hahahha.. “ Aku tahu, ia berusaha menghiburku. Dan aku memang terhibur.

Apa yang dikatakan Tasya memang benar, gak ada yang bakalan tahu kita akan mati kapan. Begitupun Tasya ataupun yang lain. Ternyata bukan hanya aku yang punya sakit parah seperti leukimia, Tasya juga mengidap penyakit yang sama parahnya denganku, kelainan ginjal. Dan Ia menghadap Tuhannya lebih dulu, tapi bukan karena sakitnya, Ia kecelakaan. Akh, hidup bagaikan dongeng kurasa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s