Konspirasi di lokal I-1

Hari ini kakak kelas datang lagi ke kelas Nisa, I es 1. Mereka minta kepastian anak-anak kelas ini untuk mengikuti PKR. Sebuah pesantren kilat yang diadakan saat menyambut ramadhan. Di kelasnya, masih banyak anak yang belum mengembalikan formulir dan belum bayar. Alasannya klise, gada uang. Sebenarnya bukan itu alasannya, tapi lebih tepatnya banyak yang mau pulang kampung dan karena sanlat diadakan saat ramadhan di hari pertama.

Maklum aja, yang sekolah disini, SMK Telkom adalah anak perantauan semua. Sekolah ini memang terkenal sampai keluar medan, Sumatra Utara. Jadi saat libur tiba, banyak sekali anak yang memanfaatkan momentum ini untuk pulkam. Begitu juga dengan Nisa.

“Dek, gimana? Mana formulir PKRnya? Kok belum dibalikin juga?”, bang Robi nanya ke salah satu anak.
Nisa dan Ayu sikut-sikutan. Kemudian pandang-pandangan dengan kelompok Yuni dan Anggi yang tak jauh duduk dari mereka. Mereka semua belum memutuskan untuk ikut pkr ini.

“Anggi.” Bang Robi mengabsen nama mereka satu persatu yang belum terdaptar.
“Belum bang. Gada uang.” Anggi cuek aja saat menjawabnya. Tampak kejengkelan diraut abang itu.
“Indah.”
“Gak dikasih orangtua bang”
“Eva.”
“Eng, bang, gak dikasih mama. Eva disuruh pulang sewaktu libur.” Ujarnya takut-takut. Senioritas terkadang memang membuat seseorang bisa memaksakan kehendak.

“Gak bisa gtu dek. Ini wajib kalian ikutin, cuma sekali setahun kok. ” Abang yang lain ikut bicara. Tampaknya mereka sama-sama panitia PKR.

“Yuni.. Maya.. ” Mereka kompakan juga menjawab belum bisa, dengan alasan klasik. Nangadong hepeng.
“Ayu..”

Sampai kepada giliran Nisa. “Annisa. ”

Dugh jawaban kayaknya dah diborong sama temen satu gengnya itu. “Eng.” Garuk-garuk jilbab yang tiba-tiba gatal. Satu geng udah pada melotot minta pertanggung jawaban Nisa. Mereka nekad buat janji gak bakalan ikut PKR ini. Mending dirumah, tidur. Kata salah satu dari mereka saat kemarin membahas soal ini.

“Gada uang, bang.” Nisa nyengir. Gak tau lagi alasan apa yang akan dibilang.
Satu geng mengikik tertahan, takut ketahuan sama panitia yang berdiri di depan kelas.

“Woi, kenapa kelen ini? Kenapa ga ikut PKR?”, Tanya Feri, anak kabanjahe, yang duduk di belakang nisa dan Ayu, berbisik.

“Stt.. diem ajalah kau.” nisa melotot padanya. Feri pun tak melanjutkan komentarnya.
“Gila kalian. Nanti kena marah baru tau.” Bisiknya pelan.

Panitia di depan kelas nampak berbisik-bisik. Mereka semuanya kelas tiga. Abang-abang senior. Hanya satu orang yang terlihat perempuan. Mungkin bendaharanya, pikir Ayu. Sekolah ini memang sangat langka anak perempuan. Dikelas mereka saja cuma ada lima belas orang. Yang lainnya anak laki-laki. Bisa dihitung seluruh anak perempuan yang ada di kelas satu. Cuma ada 60 orang. Rata-rata 15 orang satu kelas. Kebetulan hanya ada empat lokal di kelas satu.

BRAAK. “Kenapa kalian banyak kali yang gak ikut?” satu senior memukul meja depan. Eva tersentak, dia duduk di depan.

Tampak bang Adi meredakan emosi teman-temannya. Bang Adi adalah ketua rohis di sekolah ini. Orangnya sangat baik. Nisa dan Ayu pernah dibelikannya rumus kimia, tanpa diganti uangnya. Lain hari, Yuni dengan Anggi yang dibantuin mengerjakan PR digital. Bang Adi, bang ali, bang ishak, bang doni, mereka anak kelas III-1. Anak-anak rohis. Selain itu mereka juga pintar. Mereka selalu berebut-rebut perhatian dengan abang-abang kelasnya.

Sebagian abang-abang itu keluar. Huh menyemak aja mereka di depan itu. Anggi mengomel, jadi tidak bisa istirahat karena masalah ini. Seharusnya sekarang mereka dikantin pak barus yang tak seberapa itu. Menikmati bakwan dan tahu goreng disana. Bibir Anggi mungkin udah lipat empat sekarang. Suntuk.
Bang Adi memberi instruksi untuk anak-anak yang sudah mengembalikan formulir untuk keluar kelas.
Yess. Seru beberapa anak. “Mampus kelen.” Feri berkata tanpa suara melewati meja Nisa. Nisa memonyongkan bibir beberapa senti kearah Feri.

Tinggal Anggi, Ayu, Nisa, Yuni, Indah, Eva dan Maya yang terpelongo. Lho kok? Mau diapain ini? Jujur, mereka takut menghadapi abang senior itu. Masih terbayang di benak mereka ospek kemaren. Kami mau diapain ini? Jerit mereka dalam hati masing-masing.

Anggi pindah tempat ke bangku belajar Nisa, menyenggol dan memberikan kode-kode tertentu. Nisa angkat bahu atas pertanyaannya. Eva tampak ketakutan. Dari Anggi, Ayu, Yuni, Indah dan Maya, hanya Eva yang memang terlalu penakut untuk hal-hal seperti ini. Asal dia jangan sempat buka mulut atau menangis saja.

Nisa mendehem sekali, sambil melirik Eva, tajam. Ternyata Eva lebih takut kepada gertakan Nisa supaya mau kompakan gak ikut PKR.

Yang tinggal dikelas hanya bang Adi dan bang ishak. Owh..
Lelaki pujaan Mereka. Ayu berdehem, melihat bang ishak. Lalu melirik ke arah Nisa. Nisa cuma mesem-mesem aja.

“Dek,” suara bang Adi. Dia mengamati mereka satu-satu, mungkin tau kalau geng ini cuma pura-pura gak mau ikut. “Ikut napa, PKRnya.” Suaranya lembut sekali. Gak tega sama abang yang satu ini. mereka takut meluluh dihadapannya.

“Gada uang bang..” Anggi yang menjawab.
“Iya bang, gada uaang..” maya mengekor, dengan gaya manjanya.
“Nisa?”

“Eng.. sebenernya belum tau sih bang, belum ditanya lagi. kemaren waktu nelpon ayah, gak dikasih. Karena nginap itu kali bang. Lagian itu puasa pertama. Enaknya kan sama keluarga, bang” Ia berharap argumentnya diterima. Padahal asli Nisa cuma ngarang. ia ga pernah nelpon ayah. Bagaimanapun, pasti ayahnya bakalan ngasih izin buat ikutan. Apalagi ini adalah kegiatan agama, pasti ayah mendukungnya. Dan lagi ini cuma jarak Medan-Rantau yang kapan aja ia mau bisa pulang dengan segera.
Bang Adi manggut-manggut. “Ayu?”

“Sama bang kayak nisa”
“Sama apanya? Bohongnya?”
Deg. mereka terdiam. Bang Adi seperti bisa membaca pikiran mereka.

“Indah? Yuni?”
Mereka diam. Takut salah ngomong. Bang Adi tampak serius, dia memandang mereka satu-satu.

“Dek..” suaranya melunak. Tidak setegang tadi. Anak-anak yang lain tampak mengintip kaca jendela kelas dari luar. Anggi pernah dengar, hanya kelas mereka yang bermasalah. Kelas yang lain I-2 sampai I-4 hanya satu dua orang yang tidak bisa ikut. Bandingkan dengan kelas mereka yang hampir seperempat muslim yang tidak ikut. “..begini yah, abang tau masalah kalian. Abang juga pernah kok kelas satu seperti kalian. Sebenarnya bukan kalian gak mau ikut. Abang tau sebenernya kalian itu mau ikut. Cuma.. ”

“.. males bang.” Akhirnya Nisa gak tahan juga buat ngeluarin uneg-unegnya. “Ngapain coba PKR? Belajar lagi. mending juga tidur dirumah. Santai-santai, enak lagi. liburan kok malah disuruh nginap-nginap. Ngapain coba?” protesnya.

“Iya bang. Males.” tampak sebenernya yang provokator diantara mereka adalah Nisa dan Anggi.
Bang Adi tersenyum. Tampaknya ia sudah menemukan alasan kenapa banyak diantara mereka yang gak mau ikut PKR.

“Dek,, enak lho ikut PKR. Seru.”
Nisa berpandangan dengan Anggi. Tertarik dengan gaya ceritanya.

Ia melanjutkan. “Bisa nginap bareng teman. Jarang-jarang loh bisa nginap bareng-bareng gitu.”
Iya juga. Kenapa gak terpikirkan olehku? Pikir Ayu. Yang ada dalam benaknya adalah ceramah-ceramah ustad yang membosankan itu. Kebebasan yang bakalan terenggut. Penyiksaan seperti ospek. Pokoknya image yang buruk tentang PKR ada di otaknya.

“Dulu, waktu abang kelas satu dan ikut PKR. Banyak kejadian lucunya. Bisa ngeliat muka temen yang baru bangun tidur.. kadang mandi rebutan.. malah ada yang masuk forum gak sempat mandi. Hahaha..”
Mereka tersenyum mendengarnya.

“Yang lebih lucu waktu makan. Ada yang nasinya kekerasan kayak beras. Kadang kelembekan. Lucu-lucu lah.. tapi yang paling bikin haru tuh malam terakhir.”

“Kenapa bang?” Tanya yuni.

“Kalau udah malam terakhir, malah kami yang gak mau pulang. Dah keenakan satu forum. Kemana-mana sama. Ngaji bareng, sholat bareng. Makan sama, rebutan kamar mandi. Itu semua bikin kami malas pulang dan berharap PKRnya nambah hari lagi. Kalau dirumah coba, ngapain? Palingan cuma bisa tidur, nonton, ngaji sendiri. Gak seru dek.”

Mereka mengangguk-angguk. Ada yang senyum-senyum membayangkan itu semua.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s