Pendahuluan

Kita sedang melanjutkan sebuah cerita.

Cerita tentang si bocah dan si bandel, disingkat menjadi bocah bandel.

Si bocah, lelaki Jawa yang sedang terdampar di kota Padang. Yang mempunyai masalah kompleks yaitu sulit untuk mengucapkan bahasa R, seorang PNS di BPS dengan perawakan jawa dan tinggi 172. Sulit mencocokkan lidah dengan masakan minang yang rata-rata menambah kadar kolesterol, membuatnya sering puasa dadakan. Yang sedang khilaf berjuang dan berusaha untuk mendapatkan wanita batak idamannya.

Si bandel, wanita batak tulen asli Medan yang sering bermimpi bahwa dia adalah seorang laki-laki sehingga memutuskan untuk menyebut dirinya sendiri abang. Dosen di salah satu Akademi yang sering tidak menyadari bahwa dirinya adalah seorang dosen karena kecuekannya dalam hal berpakaian. Sedang berusaha menggapai mimpi menjadi tenaga pendidik profesional yaitu dengan melanjutkan study S2-nya di Padang.

Mereka bertemu di tanah minang. Dan mereka berdua berencana menikah.

“Aku berjalan melewatimu. Aku bahkan lupa kalau kita pernah berjalan beriringan, mungkin karena aku selalu ketiduran.
Perputaran waktu ini kadang membuatku tercengang dan memaksaku berhenti pada titik nol. Yah kau tahu, aku slalu berhenti pada periode ke tiga putaran itu.
aku selalu berpikir untuk lari dan lari, perasaanku akan damai dalam kesendirian
ternyata setelah kutemukan sepi itu, aku masih mencarimu. Tapi dimana? Selama ini aku memang tak tahu dimana persembunyianmu.
Aku mencoba berjalan perlahan, menikmati jeda persinggahan di setiap simpang dua. Hah, ternyata kau disitu. Aku menemukanmu.
Aku janji tidak akan berlari lagi. “

Itu janji si bandel kepada bocah. Tapi kenyataannya dilema cinta tidak hanya sekali dua kali mendatanginya. Sampai akhirnya jalan itu dimudahkan, emak bandel melunak dan menyerah untuk mengikuti kemauan anaknya untuk memilih bocah menjadi pasangan hidupnya. Kata emak,”Kenapa yah, semua lelaki yang datang untuk melamarmu selalu orang Jawa?”. “Entahlah”, kata bandel.

Mereka pernah berjanji, apapun yang terjadi nanti, apakah mereka ditakdirkan bersama atau tidak, mereka tidak akan pernah bermusuhan atau saling menyalahkan. Yah, pengalaman cinta mereka yang pahit membuat cara berfikir mereka semakin dewasa.

Dan kini, mereka menanti hari-hari untuk merealisasikan mimpi mereka. Yaitu hari mengkhitbah (lamaran). Padahal pada dasarnya si bocah hanya takut kehilangan bandel, karena bandel selalu cerita tentang rencana emaknya yang masih terus-terusan punya niat buat menjodohkan anaknya dengan orang batak, saudara mereka. Apalagi si bocah juga gak tahan mendengar pengakuan bandel yang suka plin-plan, maju mundur melanjutkan rencana mereka. Dan keputusannya bulan depan bocah akan datang kembali kerumah bandel bersama kedua orangtuanya.

Jadi, kita doakan saja. Semoga ini menjadi cerita yang indah.

Advertisements

2 thoughts on “Pendahuluan

  1. ayu says:

    Amiiiinnnn… dan ternyata happy ending kan nis…. 🙂

    iyah tuh nis…. hehehe (apa coba)…

    1. Kita sebagai anak pasti ingin mendapat ridha orang tua…. tapi orangtua juga pastinya agar anak-anaknya menjalani kehidupan dengan bahagia dan tanpa ada paksaan menjalani keputusan mereka..

    so… u made right decision…

    2. orang jawa mungkin adalah tipe terbaik buat nisa ini,.. selain kebanyakan teman2 cewe nu adalah orang jawa (hahahaha…ngaku2)… lagian orang jawa itu kan manis2 (seperti yang nulis… hueeekkk)

    3. i miss nisa… selalu berdoa agar nisa bahagia…
    hhehe… curcol 🙂 walau aku sudah jauuuuhhhhh…dan gaptek sekali sehingga jarang ngenet.. im so sorry for this…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s