Rewelnya anak + loss control, jadi apa?

Bukan sekali ini saya kehilangan kontrol atas emosi jiwa dalam menghadapi dua bocah. Di kala demam plus sakit kepala yang belum mereda, dan di kala nyeri hari pertama bulanan tiba, sendiri tanpa partner dan juga efek perut yang belum diisi maka bagai bom hiroshima, amarah itu pun memuncak.

Dari kronologis awal kejadian sebenarnya cuma hal-hal yang sepele tapi saat ia berulang, dan timing yang tidak pas tadi rasanya semua logika pun menguap entah kemana. Akhirulkalam saya pun menyesal.

Seandainya saya lebih sabar, seandainya saya mau mengalah, seandainya.. seandainya.. mungkin dua bocah pun tidak perlu melihat emaknya gila sesaat. Padahal saya menganut prinsip, apapun bisa dibicarakan. Tapi berbicara dengan dua balita dengan tingkah yang berbeda si abang dan si adek, kursusnya dimana?

Menghadapi rewelnya anak disaat yang tidak tepat, Kalau menurut penyusunan RPP, harus dilihat dari tingkat kesukarannya, Mudah hingga sulit. Coba perhatikan, adakah beberapa yang sudah diterapkan?

image

Ngomong dari hati ke hati. Check.
Pakai bahasa halus. Check.
Peringatan satu, dua, tiga, dst. Check.
Pandang- pandangan. Check.
Mogok bicara. Check.
Pindah posisi. -hal ini sulit dilakukan karena keduanya mengekor kemana-mana, ditambah si adek yang lengket minta digendongin atau dipangku.

Mungkin salah saya juga yang menganggap mereka akan mengerti penderitaan yang sedang saya hadapi (melebay), please deh mereka itu balita, yang sebentar merengek, menangis, marah dan tak lama kemudian akan ketawa tanpa harus berpikir keras. Dan saya harus berpikir keras bagaimana cara menghadapinya. Kalau dengan logika yah tinggal mengikuti saja kemauan itu balita, tapi kondisi yang tidak fit lagi -lagi harus mengalahkan semua logika sehingga lebih memilih emosi dan egoisme. Welcome di dunia emak! Hahahahah #ketawakunti

Ah, kalau sudah begitu akan terbayang si mama. Rewelnya dua balitaku mungkin masih wajar dibanding kenakalan saya sewaktu kecil. Betapa sewaktu kecil saya selalu kena marah karena kelambanan saya dalam bergerak dan akhirnya menjadi seorang pengambek. Bagaimana dulu saking kesalnya bolak balik dimarahi dan disuruh supaya lebih cepat bergerak akhirnya saya pura-pura tidak mendengar atau lebih parahnya lagi akan pura -pura tidur. (Jadi pengakuan dosa nih!)

Yah, ujung-ujungnya saya cuma bisa menangis dan berharap sekali lagi duo bocah akan paham kalo emaknya emang benar-benar sakit dan butuh pertolongan. Eh, yang ada mereka juga jadi ikutan menangis duduk sebelah- sebelahan. Apalagi melihat mereka yang tambah ketakutan karena emaknya emosi jiwa mau pergi dan mau sendiri dulu. Ya Salaaam.. ya Allah.. sabarkanlah saya.. oh Suamiku cepatlah pulang. Mungkin hanya doa itu yang bolak balik saya rapalkan dan mencoba diam saja dan mencoba mengalah dengan memeluk duo bocah yang akhirnya menuruti apa yang saya inginkan.

Jadi nih, Peringatan keras bagi emak-emak kalo lagi emosi jiwa lebih baik cepat cari pertolongan, serius. Atau lebih baik lagi menjauh dari TKP kalau memungkinkan. Ingatlah, jangan melebay, anak-anak akan tetap menjadi anak-anak, rewelnya itu hanya sebentar saja dan nantinya pasti akan lupa pada marahnya. Kalau marah menjauhlah cari minuman tarik nafas panjang dan diam saja, daripada nantinya terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

image

Ah, jadi PE-ER nih. Jadi pengingat, mungkin besok lagi, besok lagi dan besoknya lagi saya bisa lebih sabar dan mengingat ini semua. Semoga. AAMIIN..