Rumput dirumah lebih hijau dibandingkan di halaman tetangga

Posted on December 8, 2010

7


Pribahasa itu emang yang paling tepat buat kondisi sekarang. Why? Emang begitu kenyataannya.

Rumah tetangga pada gada rumput, halamannya bersih. Halaman rumah kami? Hmm…

Bukan bermaksud membandingkan antara rumah tetangga dengan rumah sendiri. Udah beberapa bulan ini rumput-rumput di halaman rumah kami (baca, kontrakan) dipenuhi dengan rumput-rumput yang menyemakkan pandangan mata. Rumputnya lebih hijau dan tidak teratur, alias gak pernah dibersihkan. Jangankan dibersihkan, disapu aja gak pernah. Padahal dirumah ada dua biji sapu lidi.

Hayyo.. mau menyalahkan siapa?

Heheheh.. penggambaran rumah seakan-akan tuan dan nyonya pemilik rumah sangat sibuk. Padahal tidak begitu. Kami mempunyai waktu luang sabtu dan minggu buat istirahat full dirumah. Walaupun gak setiap minggu, anggaplah hari sabtu atau minggu sebenernya bisa menyediakan waktu untuk membersihkan halaman, minimal dua jam pada pagi hari.

Yang parahnya sih, waktu luang yang ada emang bener-bener dimanfaatkan buat istirahat alias tidur. Ckckckc.. parah. Begitu, kan?

Bisa dihitung berapa kali halaman rumah dibersihkan semenjak pindah menempati kontrakan baru awal ramadhan lalu. Cuma satu kali. Itupun menggunakan jasa tukang rumput. Jadi, dengan ikhlas hati  kami harus mengeluarkan 300 ribu untuk membersihkan sekeliling halaman rumah sebelum pulang kampung. Kerjaan tukang emang hebat! Dalam satu hari itu halaman langsung bersih tanpa ada rumput yang menyemak lagi.

Dan semenjak pembersihan yang pertama (asal tidak menjadi yang terakhir), belum pernah sekalipun rumput-rumput itu kembali dibersihkan. Terakhir kali, kalau tidak salah bulan lalu seminggu sebelum pulang ke Medan. Si bocah seperti mendapat hidayah, pagi-pagi membabat rumput-rumput disekitar parit yang mulai mengganggu saluran air. Kejadiannya berlangsung selama satu jam. Hasilnya? “Adduh.. badan mas pegel bangettttt.. “ Membersihkan rumput di sekitar parit efek pingsannya bisa lebih lama dari satu jam. Hihihihi..

Hasil pembabatan rumput yang nanggung itu masih membutuhkan kerja lanjutan, yaitu pembakaran. Hampir seminggu baru bisa dibakar. Masalahnya hujan yang terus menerus membuat sampah basah dan sulit dibakar. Selang dua minggu sehabis dibakar, rumput-rumput kembali menyemak lagi dengan suburnya karena hujan yang turun.

Parah-parah-parah.

Cerita lain. Sepulang dari Medan, setelah mengadakan acara walimahan abang di awal bulan kemarin, kami membawa satu kardus tanaman sikas dan bunga jarum si emak. Itu tanaman niatnya mau ditanam di halaman rumah di Padang.

Dan entah kapan hendak ditanam. Kami pun gak tahu kapan. Jujur, kalo soal tanam-menanam aku bukan ahlinya. Di Medan, yang rajin menanam bunga hanya emak. Kenyataan, itu tanaman sampai detik ini masih bersemayam di kamar mandi dan masih hidup pula. PlAAAKKK..

Ah, kelak kalau kami mempunyai rumah, kami tidak mau mempunyai halaman dengan rumput. Biarlah ungkapan rumput di halaman tetangga lebih hijau itu tetap berlaku.