Pribahasa itu emang yang paling tepat buat kondisi sekarang. Why? Emang begitu kenyataannya.
Rumah tetangga pada gada rumput, halamannya bersih. Halaman rumah kami? Hmm…
Bukan bermaksud membandingkan antara rumah tetangga dengan rumah sendiri. Udah beberapa bulan ini rumput-rumput di halaman rumah kami (baca, kontrakan) dipenuhi dengan rumput-rumput yang menyemakkan pandangan mata. Rumputnya lebih hijau dan tidak teratur, alias gak pernah dibersihkan. Jangankan dibersihkan, disapu aja gak pernah. Padahal dirumah ada dua biji sapu lidi.
Hayyo.. mau menyalahkan siapa?
Heheheh.. penggambaran rumah seakan-akan tuan dan nyonya pemilik rumah sangat sibuk. Padahal tidak begitu. Kami mempunyai waktu luang sabtu dan minggu buat istirahat full dirumah. Walaupun gak setiap minggu, anggaplah hari sabtu atau minggu sebenernya bisa menyediakan waktu untuk membersihkan halaman, minimal dua jam pada pagi hari.
Yang parahnya sih, waktu luang yang ada emang bener-bener dimanfaatkan buat istirahat alias tidur. Ckckckc.. parah. Begitu, kan?
Bisa dihitung berapa kali halaman rumah dibersihkan semenjak pindah menempati kontrakan baru awal ramadhan lalu. Cuma satu kali. Itupun menggunakan jasa tukang rumput. Jadi, dengan ikhlas hati kami harus mengeluarkan 300 ribu untuk membersihkan sekeliling halaman rumah sebelum pulang kampung. Kerjaan tukang emang hebat! Dalam satu hari itu halaman langsung bersih tanpa ada rumput yang menyemak lagi.
Dan semenjak pembersihan yang pertama (asal tidak menjadi yang terakhir), belum pernah sekalipun rumput-rumput itu kembali dibersihkan. Terakhir kali, kalau tidak salah bulan lalu seminggu sebelum pulang ke Medan. Si bocah seperti mendapat hidayah, pagi-pagi membabat rumput-rumput disekitar parit yang mulai mengganggu saluran air. Kejadiannya berlangsung selama satu jam. Hasilnya? “Adduh.. badan mas pegel bangettttt.. “ Membersihkan rumput di sekitar parit efek pingsannya bisa lebih lama dari satu jam. Hihihihi..
Hasil pembabatan rumput yang nanggung itu masih membutuhkan kerja lanjutan, yaitu pembakaran. Hampir seminggu baru bisa dibakar. Masalahnya hujan yang terus menerus membuat sampah basah dan sulit dibakar. Selang dua minggu sehabis dibakar, rumput-rumput kembali menyemak lagi dengan suburnya karena hujan yang turun.
Parah-parah-parah.
Cerita lain. Sepulang dari Medan, setelah mengadakan acara walimahan abang di awal bulan kemarin, kami membawa satu kardus tanaman sikas dan bunga jarum si emak. Itu tanaman niatnya mau ditanam di halaman rumah di Padang.
Dan entah kapan hendak ditanam. Kami pun gak tahu kapan. Jujur, kalo soal tanam-menanam aku bukan ahlinya. Di Medan, yang rajin menanam bunga hanya emak. Kenyataan, itu tanaman sampai detik ini masih bersemayam di kamar mandi dan masih hidup pula. PlAAAKKK..
Ah, kelak kalau kami mempunyai rumah, kami tidak mau mempunyai halaman dengan rumput. Biarlah ungkapan rumput di halaman tetangga lebih hijau itu tetap berlaku.
genkeis
December 9, 2010
walah.. parah
berkebun itu bagus lho buat kesehatan, relaksasi, dll ^_^v *menyemangati diri sendiri jg
bandel
December 9, 2010
yang bilang berkebun itu sapa? toe
masih juga punya halaman belum punya kebun.. tapi gak bisa membersihkannya :toktok:
ayu
December 9, 2010
hehe.. nisa nisa….
jadi kalau punya rumah, nanti langsung tanam rumput gajah mini, hehe…
atau nis, pelihara kambing biar rumput2 nya dimakan kambing
bandel
December 9, 2010
heheh.. pinteeerr!!
btw, rumput gajah mini itu yang kayak mana neng?
kalo kambing sih udah punya neng, di pekalongan. tapi masa’ iya sih, makannya mesti rumput padang ~_~
Poetra
December 10, 2010
issss, nampak kali anak ” medan-nya”, sejak kapan sapu lidi ber-”BIJIK”.
CKCKCKCKC!
bandel
December 10, 2010
weeekk.. udah bersih halaman awak, bang
kemaren ada tukang potong rumput lewat.. hehehe
dan tadi awak dapat hidayah buat nyapu rumput dan ngebakarnya..
subhanallahh.. alhamdulillah.. hehehehe..
jumialely
April 9, 2011
Setahun jumialely [dot] com, dengan penuh penghargaan saya ucapkan Terima Kasih karena sahabat sudah pernah Menorehkan jejak cinta di rumah maya saya. I love You